mail@poltekkaltara.ac.id +628125406278 Jl. P. Lumpuran, Kampung 1 Skip, Tarakan Tengah, Kota Tarakan, Kalimantan Utara
Informasi Publik

Berita

Kumpulan artikel dan informasi terbaru Politeknik Kaltara yang disajikan lebih rapi, nyaman dibaca, dan mudah dijelajahi.

5 Hal yang Terjadi pada Tubuh Setelah Berhenti Konsumsi Gula 30 Hari
01 Agu 2025 Umum IT Poltek

Gula sering dianggap sebagai salah satu penyebab dari beberapa kondisi kesehatan seperti diabetes. Terlebih, apabila makanan tinggi gula dikonsumsi secara rutin terus menerus.
Menurut dr Pritam Moon, dokter spesialis penyakit dalam di Wockhardt Hospital, Mumbai, asupan gula yang berlebihan dapat memicu penumpukan lemak dalam tubuh, yang kemudian berkontribusi terhadap obesitas, penyakit hati berlemak, dan diabetes tipe 2.

"Kondisi-kondisi ini selanjutnya dapat meningkatkan dua kali lipat risiko masalah jantung. Selain itu, perlu diingat bahwa obesitas juga meningkatkan risiko terkena kanker,

Karenanya, penting untuk lebih bijak dalam mengatur asupan gula guna menjaga kesehatan jangka panjang. Lantas, apa yang terjadi jika berhenti mengonsumsi gula selama 30 hari? Dikutip dari Times of India, berikut penjelasannya.

1. Energi meningkat
Gula memberikan lonjakan energi secara cepat, namun diikuti oleh penurunan drastis yang dapat menyebabkan tubuh merasa lelah dan lesu. Saat asupan gula hilang, tubuh mengalami tingkat energi yang lebih stabil sepanjang hari. Stabilitas kadar gula darah ini membantu mencegah fluktuasi yang biasa terjadi setelah mengonsumsi makanan manis.

Menghilangkan gula tambahan dari pola makan dapat meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi rasa lelah bahkan sejak hari ketiga. Tubuh juga mulai lebih efisien dalam menggunakan lemak sebagai sumber energi utama, sehingga stamina tetap terjaga.

Harvard Health Publishing menyebutkan mengurangi konsumsi gula dapat membantu menjaga kestabilan kadar gula darah, sekaligus mencegah lonjakan maupun penurunan yang ekstrem.

2. Berat badan menurun
Asupan gula yang tinggi, terutama dari minuman manis dan camilan, sering kali menyebabkan konsumsi kalori berlebih yang tidak dibutuhkan tubuh. Akibatnya, berat badan pun meningkat.

Penumpukan lemak, terutama di area perut, dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan diabetes tipe 2. Dengan menghilangkan gula tambahan dari pola makan, asupan kalori total cenderung menurun secara alami.

Berhenti mengonsumsi gula selama tiga puluh hari umumnya berdampak pada penurunan berat badan yang signifikan, disertai dengan berkurangnya lemak di sekitar perut. Kadar insulin yang lebih rendah memungkinkan tubuh memecah lemak dari tempat penyimpanannya secara lebih efisien. Hal ini juga membantu mengurangi rasa lapar dan meningkatkan kontrol terhadap keinginan makan berlebih.

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam The American Journal of Clinical Nutrition menunjukkan penurunan konsumsi gula berkaitan dengan berkurangnya lemak tubuh dan lingkar pinggang secara signifikan.

3. Kejernihan pikiran meningkat
Secara kimiawi, dopamin, zat di otak yang berperan dalam rasa senang dan motivasi, mengalami perubahan ketika seseorang mengonsumsi gula.

Konsumsi gula yang tinggi dalam jangka panjang memang dapat memberikan rasa senang sesaat, namun seiring waktu justru memicu perubahan suasana hati, kecemasan, serta gangguan konsentrasi.

Saat asupan gula dihentikan, otak akan beradaptasi dan mulai bekerja dengan lebih stabil dan konsisten. Sebagian besar individu yang berhenti mengonsumsi gula selama tiga puluh hari melaporkan penurunan tingkat kecemasan, disertai peningkatan kejernihan mental dan stabilitas emosi.

Gula juga dapat mengganggu ritme tidur alami, dan banyak orang merasakan kualitas tidur yang lebih baik setelah menghentikan konsumsi gula.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam Nutritional Neuroscience menunjukkan pola makan tinggi gula dikaitkan dengan peningkatan risiko depresi dan gangguan kognitif. Sebaliknya, mengurangi konsumsi gula secara signifikan dapat meningkatkan kesehatan mental.

4. Kulit tampak lebih sehat
Konsumsi gula dapat memicu peradangan pada kulit sekaligus memecah kolagen, yaitu protein yang berperan menjaga kekencangan dan keremajaan kulit. Proses ini menyebabkan munculnya kerutan, jerawat, serta kulit tampak kusam.

Menghilangkan gula dari pola makan membantu mengurangi peradangan, sehingga kulit memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan tampak lebih sehat.

Mayoritas orang yang tidak mengonsumsi gula selama sekitar satu bulan melaporkan bahwa kulit mereka mengalami lebih sedikit jerawat dan kemerahan. Mengonsumsi makanan utuh (whole foods) serta cukup minum air putih turut memperkuat manfaat ini bagi kulit.

Penelitian dermatologi yang dipublikasikan dalam Journal of the Academy of Nutrition and Dietetics membuktikan pengurangan konsumsi gula berkontribusi pada penurunan kasus jerawat dan peningkatan kesehatan kulit.

5. Kekebalan tubuh meningkat
Menghilangkan gula dari pola makan menciptakan efek perlindungan terhadap berbagai penyakit kronis. Konsumsi gula yang tinggi meningkatkan risiko terkena diabetes tipe 2, penyakit jantung, penyakit hati berlemak, dan sindrom metabolik.

Dengan mengurangi gula, tubuh akan mengalami penurunan peradangan, sekaligus meningkatkan kemampuan dalam mengatur insulin dan kadar kolesterol.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan pedoman untuk membatasi konsumsi gula tambahan tidak lebih dari 10% dari total asupan kalori harian.

(NF/detik.com)

5 Gejala di Pagi Hari yang Menandakan Masalah Jantung, Kerap Dianggap Sepele
30 Jul 2025 Umum IT Poltek

Penyakit jantung merupakan penyebab utama kematian di dunia. Meskipun gejalanya kadang muncul secara tiba-tiba dan menyebabkan serangan jantung, kondisi ini umumnya berkembang secara perlahan dalam hitungan bulan hingga bertahun-tahun. Pemeriksaan kesehatan secara rutin, terutama setelah usia 40 tahun, sangat penting untuk mendeteksi risiko sejak dini.
Beberapa tanda gangguan jantung bisa lebih terasa di pagi hari, saat tubuh baru saja bangun dan belum banyak beraktivitas. Dikutip dari Times of India, berikut lima tanda di pagi hari yang bisa mengindikasikan adanya masalah pada jantung dan sebaiknya tidak diabaikan.


1. Rasa tak nyaman atau nyeri di dada    
 Tanda peringatan paling jelas yang mungkin mengindikasikan masalah jantung adalah rasa tidak nyaman atau nyeri dada, yang sering kali      muncul di pagi hari. Ketidaknyamanan ini biasanya terasa seperti tekanan atau sesak di bagian tengah atau kiri dada, dan sering                digambarkan sebagai sensasi berat, seperti tertimpa beban besar.
Nyeri tersebut dapat terjadi dalam episode ringan yang hilang dan muncul ke
Banyak orang menggambarkan rasa sakit ini seperti "gajah duduk di dada" atau tekanan berat yang menghimpit.
Jika nyeri ini berlangsung lebih dari beberapa menit, segera cari pertolongan medis. Penanganan dini sangat penting dan dapat menyelamatkan nyawa.

2. Sesak napas
Sesak napas yang terjadi saat terjaga merupakan tanda yang perlu mendapat perhatian medis segera karena bisa mengindikasikan adanya gangguan pada jantung. Ketika jantung tidak memompa darah secara efisien, cairan dapat menumpuk di paru-paru dan menyebabkan kesulitan bernapas.
Gejala ini perlu diwaspadai, terutama jika terjadi saat berbaring atau dalam kondisi istirahat. Kesulitan bernapas yang muncul secara tiba-tiba dan semakin memburuk perlu segera dievaluasi secara medis.
Selain itu, gejala pernapasan seperti batuk dan mengi yang terus-menerus juga dapat menjadi tanda kondisi serius dan memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

3. Detak jantung tak teratur atau palpitasi
Palpitasi jantung yang disertai detak jantung cepat dan hilang timbul, terutama setelah bangun tidur, bisa menjadi tanda peringatan. Kondisi ini dikenal sebagai aritmia, yaitu gangguan irama jantung. Aritmia cenderung lebih sering terjadi di pagi hari karena lonjakan hormon kortisol alami tubuh yang dapat memicu ketidakteraturan irama jantung.
Gejalanya meliputi pusing, nyeri dada, kelelahan, hingga perasaan seperti akan pingsan. Penting untuk segera melakukan evaluasi medis karena aritmia dapat menjadi tanda adanya kondisi jantung serius, seperti penyakit jantung iskemik atau kardiomiopati.
Mencatat waktu dan pola detak jantung yang tidak teratur dal

4. Kelelahan tak biasa
Kelelahan ekstrem di pagi hari, meskipun sudah tidur cukup, bisa menjadi tanda bahwa jantung tidak memompa darah kaya oksigen secara efektif ke seluruh tubuh. Jenis kelelahan ini berbeda dari kelelahan biasa karena muncul tiba-tiba dan tanpa penyebab yang jelas.
Wanita perlu lebih waspada, karena gejala ini sering kali muncul lebih awal sebelum tanda-tanda penyakit jantung lainnya terlihat.
Kelelahan yang tidak biasa dan disertai sesak napas atau nyeri dada memerlukan pemeriksaan medis. Jika aktivitas harian terasa jauh lebih melelahkan daripada biasanya, segera konsultasikan dengan tenaga kesehatan.


5. Pusing atau sakit kepala ringan
Pusing saat bangun tidur bisa menjadi tanda bahwa jantung tidak mampu mengalirkan darah secara optimal ke otak. Kondisi ini dapat disebabkan oleh penyumbatan arteri, gangguan irama jantung, atau fluktuasi tekanan darah.
Jika gejala ini disertai keringat dingin dan mual, segera cari pertolongan medis karena bisa mengindikasikan masalah jantung yang serius. Pemeriksaan kesehatan jantung sangat dianjurkan jika pusing terjadi secara berulang di pagi hari.

(NF?detik.com)

Bau Mulut Seperti Ini Ternyata Bisa Jadi Tanda Ada Penyakit di Tubuh
29 Jul 2025 Umum IT Poltek

Perubahan bau mulut sebaiknya jangan dianggap sepele. Dalam beberapa kasus, rupanya ini berkaitan dengan masalah kesehatan serius.
Bau mulut seringkali dikaitkan dengan kurangnya menjaga kebersihan gigi atau terlalu banyak minum kopi. Namun, penelitian menunjukkan bau napas bisa menjadi tanda awal dari masalah kesehatan sistemik.

"Napas Anda bisa menjadi jendela mengejutkan terhadap kondisi kesehatan Anda," kata teknolog gigi Allen Zhang, dikutip dari Daily Mail, Selasa (29/7/2025).

Berikut ini sederet jenis bau mulut yang dapat menandakan masalah kesehatan serius:

1. Bau Manis Seperti Aseton
Menurut Zhang, ini bisa menjadi tanda diabetes yang tidak terkontrol dengan baik. Penelitian menunjukkan napas berbau manis bisa mengindikasikan tingginya kadar keton dalam darah, yang sering dialami pengidap diabetes.

2. Bau Logam
Bau logam bisa menunjukkan adanya gangguan ginjal atau paparan logam berat. Gejala ini muncul saat ginjal tidak dapat secara efektif membuang limbah dari tubuh, termasuk urea, yang dapat membentuk amonia ketika bercampur dengan air liur.

Kehadiran amonia ini bisa membuat napas terasa beraroma logam.

3. Bau Amis
"Napas bau amis bisa menandakan kondisi yang disebut trimetilaminuria," ujar Zhang.

Ini adalah gangguan metabolik di mana tubuh tidak dapat mengurai trimetilamin, senyawa yang berbau seperti ikan busuk.

Bau amis juga bisa menjadi gejala masalah hati, khususnya kondisi yang disebut fetor hepaticus. Fetor hepaticus yang sering dijuluki sebagai 'napas kematian', muncul saat hati tidak mampu menyaring racun dari darah secara baik.

Racun seperti dimetil sulfida bisa menumpuk di darah dan keluar melalui napas, menghasilkan bau khas tersebut.

4. Bau Telur Busuk
Napas berbau belerang atau seperti telur busuk bisa menjadi penanda masalah pencernaan. Bau ini disebabkan oleh gas hidrogen sulfida yang bisa terbentuk selama proses pencernaan.

5. Bau ApekTerakhir, napas yang berbau apek bisa menandakan adanya masalah pada fungsi ginjal atau bisa menjadi tanda gagal hati.
"Ini adalah petunjuk diagnostik, bukan hanya masalah kebersihan," kata Zhang.

"Teknologi baru sedang berkembang untuk membantu dokter mendeteksi risiko penyakit melalui biosignature mulut, termasuk senyawa sulfur dan keton dalam napas," tandasnya.

(NF/detik.com)

Terungkap Lewat Studi, Makan Telur 2 Kali Sehari Bantu Turunkan Kolesterol 'Jahat'  Baca a
29 Jul 2025 Umum IT Poltek

Selama bertahun-tahun, aturan terkait konsumsi telur harian masih belum ada yang konsisten. Beberapa studi menunjukkan sarapan dengan telur bisa berbahaya bagi kesehatan.

Namun, studi lainnya justru mendukung sarapan dengan telur sebagai sumber protein dan nutrisi lain yang sangat baik untuk tubuh.

Sebuah studi baru yang dipublikasikan di The American Journal of Clinical Nutrition memperkuat bukti mengonsumsi telur sangat baik untuk tubuh. Penelitian ini mengamati pengaruh terpisah dari lemak jenuh dan kolesterol terhadap kadar lipoprotein densitas rendah atau low-density lipoprotein (LPL), atau kolesterol 'jahat' di dalam tubuh.

"Telur telah lama disalahgunakan oleh saran diet yang sudah ketinggalan zaman. Telur memang unik, tinggi kolesterol, ya. Tetapi, masih rendah lemak jenuh," terang ilmuwan olahraga Jonathan Buckley dari University of South Australia, dikutip dari ScienceAlert, Senin (28/7/2025).

"Namun, kadar kolesterolnya yang sering membuat orang mempertahankan perannya dalam pola makan sehat," sambungnya.

Dalam studi ini, peneliti memisahkan efek kolesterol dan lemak jenuh. Peneliti menemukan kolesterol tinggi dari telur, saat dikonsumsi sebagai bagian dari diet rendah lemak jenuh, sebenarnya tidak meningkatkan kadar kolesterol jahat.

Sebaliknya, lemak jenuhlah yang menjadi pemicu utama peningkatan kolesterol.

Para peneliti merekrut 61 orang dewasa dengan kadar kolesterol LDL awal yang sama. Mereka diberikan tugas untuk menjalani tiga diet yang berbeda, masing-masing selama lima minggu.

Sebanyak 48 peserta menyelesaikan tiga diet tersebut. Pertama adalah diet tinggi kolesterol dan rendah lemak jenuh, yang mencakup dua telur per hari.

Kedua adalah diet rendah kolesterol dan tinggi lemak jenuh, tanpa telur. Terakhir, adalah diet tinggi kolesterol dan lemak jenuh, yang mencakup satu telur per hari.

Hasil penelitian menunjukkan diet tinggi lemak jenuh berkorelasi dengan peningkatan kadar kolesterol LDL.

Namun, diet tinggi kolesterol dan rendah lemak jenuh menghasilkan penurunan kadar kolesterol LDL. Hal ini menunjukkan bahwa telur tidak bertanggung jawab atas terjadinya kolesterol jahat.

"Bisa dibilang kami telah memberikan bukti nyata yang mendukung asupan telur," kata Buckley.

"Jadi, dalam hal sarapan matang, bukan telurnya yang perlu Anda khawatirkan. Tetapi, porsi bacon tambahan atau sosis yang lebih mungkin mempengaruhi kesehatan jantung Anda," pungkasnya.

(NF/detik.com)

Kegiatan Rapat Persiapan Raker Kerja Dan Famliy Gathering Politeknik Kaltara
28 Jul 2025 Umum IT Poltek

Kegiatan Rapat Persiapan Raker Kerja Dan Famliy Gathering Politeknik Kaltara Pada Hari Senin 20/07/2025 

(NF)

Dari Beri sampai Alpukat, Ini 4 Buah Terbaik untuk Pengidap Diabetes
28 Jul 2025 Umum IT Poltek

Siapa bilang orang dengan diabetes tidak boleh mengonsumsi buah? Faktanya, beberapa jenis buah tak hanya aman dikonsumsi, tapi juga bisa membantu memperbaiki kondisi kesehatan. Buah-buahan kaya serat, vitamin, dan antioksidan ini bisa menjadi bagian penting dari pola makan sehat untuk pengidap diabetes.

Saat memilih buah, penting untuk mempertimbangkan indeks glikemik (IG). Menurut karya ilmiah dari Politeknik Negeri Jember, indeks glikemik adalah ukuran yang menunjukkan seberapa cepat suatu makanan memengaruhi kenaikan kadar gula darah.

Buah-buahan dengan IG rendah cenderung lebih aman dan bermanfaat bagi pengidap diabetes karena tidak menyebabkan lonjakan gula darah secara drastis. Dikutip dari Times of India, berikut beberapa buah yang direkomendasikan untuk pengidap diabetes.

Berikut empat pilihan buah yang baik untuk kamu yang hidup dengan diabetes.
1. Buah Beri
Buah beri seperti raspberry, stroberi, dan blueberry memiliki indeks glikemik (IG) yang rendah. Selain itu, buah-buahan ini kaya akan serat dan antioksidan yang bermanfaat bagi kesehatan.
Dalam satu cangkir buah beri terkandung sekitar 15-20 gram karbohidrat. Menurut studi tahun 2024, konsumsi buah beri secara rutin bahkan dapat membantu menurunkan risiko terkena diabetes tipe 1.

"Buah beri sangat kaya akan polifenol, senyawa tumbuhan yang bisa meredakan peradangan yang berkaitan dengan perkembangan diabetes tipe 1," tutur Profesor Virtanen dari Institut Kesehatan dan Kesejahteraan Finlandia, Helsinki, Finlandia.

2. Kiwi
Kiwi mengandung indeks glikemik rendah hingga sedang. Buah ini kaya akan serat dan nutrisi seperti vitamin C dan antioksidan yang bisa membantu menstabilkan kadar gula darah.

Kandungan serat di dalamnya dapat memperlambat penyerapan gula, sehingga menjadi pilihan yang ideal untuk mengelola diabetes. Namun, tetap batasi konsumsi satu atau dua kiwi per porsi. Hal ini untuk menghindari asupan karbohidrat yang berlebih.

3. Apel
Kaya serat dan mempunyai indeks glikemik rendah, apel bisa dipilih oleh pengidap diabetes. Kandungan pektin dan serat larut dalam apel dapat membantu menurunkan kadar gula darah dan meningkatkan kesehatan usus.

Apel juga mengandung vitamin C dan antioksidan. Untuk mengonsumsi serat yang lebih banyak, konsumsi apel beserta kulitnya. Asupan ini bisa memperlambat pencernaan dan penyerapan gula.

Kendati demikian pertimbangkan untuk hanya mengonsumsi satu apel berukuran sedang. Dalam apel ini terdapat 25 g karbohidrat.

4. Alpukat
Alpukat mengandung rendah karbohidrat dan lemak sehat yang tinggi. Lemak tak jenuh tunggal yang dimiliki alpukat bisa menyehatkan jantung, meningkatkan sensitivitas insulin, serta mengurangi lonjakan kadar gula darah.

Sebuah studi menunjukkan bahwa ngemil alpukat di malam hari bisa meningkatkan metabolisme trigliserida yang lebih sehat keesokan paginya.

"Meski lemak baik dan serat dalam alpukat sudah menjadikannya camilan yang memuaskan, penelitian ini membuat kita berpikir tentang bagaimana camilan sebelum tidur, sesuatu yang dikonsumsi 84% orang secara teratur bisa memengaruhi cara tubuh menangani makanan nanti," kata Britt Burton-Freeman, penulis studi dan profesor, serta ketua Departemen Ilmu Pangan dan Nutrisi di Institut Teknologi Illinois.

(NF/detik.com)