kegiatan monev kuliah pakar D-III keperawatan politeknik kaltara
kegiatan monev kuliah pakar D-III keperawatan politeknik kaltara pada hari senin tanggal...
Kumpulan artikel dan informasi terbaru Politeknik Kaltara yang disajikan lebih rapi, nyaman dibaca, dan mudah dijelajahi.
kegiatan monev kuliah pakar D-III keperawatan politeknik kaltara pada hari senin tanggal...
kegiatan monev kuliah pakar D-III keperawatan politeknik kaltara pada hari senin tanggal 10/07/25
(NF)
Kegiatan Seminer Hasil Prodi D-III Keperawatan politeknik kaltara hari kamis tanggal...
Kegiatan Seminer Hasil Prodi D-III Keperawatan politeknik kaltara hari kamis tanggal 10/07/25
(NF)
kegiatan seminer Ujian hasil Prodi D-III farmasi Politeknik Kaltara hari Kamis tanggal...
kegiatan seminer Ujian hasil Prodi D-III farmasi Politeknik Kaltara hari Kamis tanggal 10/07/25
Setelah seharian beraktivitas, banyak orang terbiasa langsung mengganti pakaian, mencuci tangan, membersihkan wajah, dan menyiapkan diri untuk beristirahat. Namun,...
Setelah seharian beraktivitas, banyak orang terbiasa langsung mengganti pakaian, mencuci tangan, membersihkan wajah, dan menyiapkan diri untuk beristirahat. Namun, ada satu langkah kebersihan penting yang kerap diabaikan, yakni mencuci kaki sebelum tidur. Padahal, kaki merupakan bagian tubuh yang terus bekerja sepanjang hari, menanggung beban, dan terpapar berbagai permukaan.
Meski tangan dan wajah sering mendapat perhatian khusus dalam rutinitas perawatan, kaki justru sering luput dari perhatian. Banyak yang tidak menganggap mencuci kaki sebagai prioritas, bahkan cenderung melewatkannya karena merasa lelah atau ingin segera berbaring. Padahal, membiarkan kaki yang belum dibersihkan masuk ke tempat tidur berisiko membawa kuman, kotoran, dan jamur yang dapat memicu berbagai masalah kulit.
1. Alasan Harus Mencuci Kaki Sebelum Tidur
Konsultan dermatologi, Rumah Sakit CK Birla, Gurugram, dr Seema Oberoi Lall, mengatakan, kaki adalah bagian tubuh yang paling dekat dengan lantai, sehingga mudah menarik berbagai jenis kuman dan debu. Jika tidak dibersihkan, kotoran tersebut bisa berpindah ke seprai, menempel pada kulit, bahkan masuk ke hidung atau mulut saat tidur.
"Kaki paling dekat dengan tanah, dan menarik berbagai macam debu dan kuman yang ada di lantai," ucapnya, dikutip dari Indian Today, Rabu (9/7/2025).
Senada, dokter spesialis kulit di Rumah Sakit Indraprastha Apollo, dr D M Mahajan mengatakan kondisi kaki yang kotor dan lembap berisiko membawa bakteri atau jamur masuk ke area tidur, yang tidak hanya berdampak pada kebersihan tempat tidur, tetapi juga dapat memicu infeksi kulit.
"Alasan utamanya adalah kaki terjebak di dalam sepatu sepanjang hari, berkeringat, dan terpapar berbagai kuman dari permukaan luar. Mencuci kaki dapat menghilangkan keringat, kotoran, jamur, dan sisa kotoran lainnya, sehingga menurunkan risiko penyakit seperti kutu air," jelas dr Mahajan.
Kutu air (tinea pedis) merupakan infeksi jamur yang mudah menular dan berkembang di lingkungan yang hangat dan lembap, terutama di sela-sela jari kaki.
Kondisi ini dapat menyebabkan kulit terasa gatal, bersisik, melepuh, hingga timbul sensasi terbakar. Gejalanya kerap muncul tanpa disadari, terutama pada mereka yang sering mengenakan sepatu tertutup sepanjang hari tanpa ventilasi yang baik.
Membantu Meredakan Rasa Sakit
Kaki merupakan bagian tubuh yang menopang seluruh berat badan setiap hari. Tanpa disadari, aktivitas ini dapat menimbulkan rasa sakit dan ketegangan yang menumpuk di area kaki.
Membasuh kaki dengan air hangat atau air dingin sebelum tidur dapat membantu meredakan ketegangan tersebut, memberikan efek relaksasi, dan mengurangi rasa tidak nyaman setelah beraktivitas seharian.
Membantu Mengatur Suhu Tubuh
Mencuci kaki dapat membantu mengatur suhu tubuh secara alami. Saat tubuh terasa panas, membasuh kaki dengan air dingin dapat membantu menurunkan suhu dan memberikan rasa sejuk. Sebaliknya, ketika tubuh merasa kedinginan, mencuci kaki dengan air hangat dapat membantu meningkatkan suhu tubuh dan menciptakan sensasi hangat yang menenangkan.
3. Cara Mencuci Kaki
Para ahli menyarankan untuk mencuci kaki dua kali sehari, tetapi tidak wajib bagi orang dengan sistem kekebalan tubuh yang sehat.
"Meskipun bukan merupakan keharusan rutin bagi orang-orang dengan kebersihan kaki yang baik secara keseluruhan, membiasakan diri mencuci kaki sebelum meletakkannya di bawah seprai dan selimut akan memberikan manfaat kebersihan yang baik dan pencegahan infeksi," kata dr Mahajan.
Senada, konsultan utama bidang podiatri di Max Multi Speciality Centre, Panchsheel Park, New Delhi, mengatakan bahwa seseorang sebaiknya mencuci kaki setidaknya dua kali sehari, sekali di pagi hari dan sekali lagi sebelum tidur.
4. Menjaga Kebersihan Kaki yang Baik
Menjaga kebersihan kaki yang baik sangat penting untuk mencegah masalah kesehatan. Berikut beberapa rutinitas kebersihan kaki yang bisa dilakukan.
*Cuci kaki setidaknya dua kali sehari, yakni di pagi hari dan sebelum tidur untuk mengangkat kotoran, keringat, dan bakteri yang menempel setelah beraktivitas.
*Keringkan kaki secara menyeluruh, terutama di sela-sela jari. Area yang lembap rentan menjadi tempat tumbuhnya jamur dan bakteri, sehingga proses pengeringan sangat penting untuk mencegah infeksi.
*Jaga kebersihan kuku kaki dengan rutin memotong dan merapikannya. Hindari membiarkan kuku terlalu panjang karena dapat menjadi tempat menumpuknya kotoran dan sumber infeksi.
*Lakukan eksfoliasi kaki dua kali seminggu. Menggosok kaki dengan lembut membantu mengangkat sel kulit mati dan mencegah penebalan kulit.
*Segera cuci kaki jika terkena debu, tanah, lumpur, atau cairan biologis seperti darah, untuk mencegah iritasi atau kontaminasi bakteri.
*Gunakan alas kaki yang sesuai, baik di dalam maupun di luar rumah, untuk melindungi kaki dari cedera atau kontaminasi lingkungan.
*Pilih kaus kaki berbahan katun atau wol yang menyerap keringat dengan baik. Hindari bahan nilon yang dapat memerangkap kelembapan dan memperbesar risiko infeksi kulit.
*Cuci kaus kaki setiap kali selesai dipakai, menggunakan air bersih dan deterjen lembut, agar tetap higienis dan bebas dari kuman.
(NF/detik.com)
Kanker saluran empedu atau istilah medisnya cholangiocarcinoma adalah jenis kanker yang terbentuk di saluran ramping (saluran empedu) yang membawa cairan pencernaan...
Kanker saluran empedu atau istilah medisnya cholangiocarcinoma adalah jenis kanker yang terbentuk di saluran ramping (saluran empedu) yang membawa cairan pencernaan empedu. Saluran empedu menghubungkan hati ke kantong empedu dan usus halus.
Dokter Spesialis Hematologi Onkologi, Prof Dr dr Ikhwan Rinaldi, SpPD-KHOM, M.Epid, M.Pd.Ked, FACP, FINASIM, mengatakan kanker saluran empedu sebagian besar terjadi pada orang yang berusia lebih dari 50 tahun, meskipun dapat terjadi pada usia berapa pun.
Kanker saluran empedu sering kali pada stadium awal umumnya tak memicu gejala yang signifikan. Gejala baru muncul jika kanker sudah memasuki stadium lanjut.
Prof Ikhwan mengatakan, gejala kanker saluran empedu stadium lanjut kerap kali disamakan dengan masalah pencernaan biasa seperti maag lantaran memicu nyeri perut. Lantas, bagaimana membedakannya?
Menurut Prof Ikhwan, perbedaan utama antara nyeri maag dan gejala kanker saluran empedu terletak pada durasi dan respons terhadap pengobatan. Pasien biasanya mengeluh mual, kembung, atau rasa penuh di perut bagian atas, mirip seperti gejala sakit maag. Namun, keluhan tersebut bersifat kronis dan tak kunjung membaik meski sudah mengonsumsi obat lambung dalam waktu lama.
"Tapi udah lama diobati bolak-balik, kok masih begitu-begitu aja? Maka dokter harusnya dokter atau orang yang merasa itu harus lebih aware ya. Bukan hanya memikirkan oh ini maag biasa gitu ya. Jadi harus datang ke dokter dan dokternya harus atau pasiennya juga merasa perlu pemeriksaan lebih lanjut," ucapnya saat ditemui di Jakarta Selatan, Selasa (8/7/2025).
Selain nyeri perut, Prof Ikhwan menyebut ada sejumlah gejala kanker saluran empedu yang juga bisa dialami pasien. Antara lain:
*kulit dan mata menguning
*demam
*gatal pada kulit
*penurunan berat badan
"Kadang-kadang keluhannya cuma seperti kembung-kembung, begah, seperti gejala maag pada awal-awal. Terus diobati saja, minum obat maag, dan dilakukan terus-terusan," sambungnya.
"Tapi pada suatu ketika, ketika sudah lanjut, baru mulai terlihat gejala seperti kulit menguning dan sebagainya. Maka, kita perlu lebih aware dengan kondisi ini supaya pasien yang datang ke kita, ke dokter, berada pada stadium yang masih bisa diobati," ucapnya lagi.
(NF/DETIK.COM)
Kegiatan Ujian Hasil Prodi D-III Farmasi Politeknik Kaltara 08/07/2025. Melaksanakan kegiatan Ujian Hasil sebagai bagian dari tahapan akhir penyelesaian tugas akhir...
Kegiatan Ujian Hasil Prodi D-III Farmasi Politeknik Kaltara 08/07/2025. Melaksanakan kegiatan Ujian Hasil sebagai bagian dari tahapan akhir penyelesaian tugas akhir Mahasiswa
(RG)