mail@poltekkaltara.ac.id +628125406278 Jl. P. Lumpuran, Kampung 1 Skip, Tarakan Tengah, Kota Tarakan, Kalimantan Utara
Informasi Publik

Berita

Kumpulan artikel dan informasi terbaru Politeknik Kaltara yang disajikan lebih rapi, nyaman dibaca, dan mudah dijelajahi.

Tak Cuma di Jakarta, Ini Bukti Mikroplastik Juga Cemari Air Hujan Seluruh Dunia
22 Okt 2025 Umum IT Poltek

Fenomena air hujan yang tidak lagi murni sudah menjadi sorotan di Indonesia setelah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan kandungan mikroplastik dalam air hujan di Jakarta.
Peneliti BRIN Muhammad Reza Cordova menjelaskan penelitian yang dilakukan sejak 2022 menunjukkan adanya mikroplastik dalam setiap sampel air hujan di ibu kota. Partikel-partikel plastik mikroskopis tersebut terbentuk dari degradasi limbah plastik yang melayang di udara akibat aktivitas manusia.

"Mikroplastik ini berasal dari aktivitas manusia di kota besar. Misalnya serat sintetis dari pakaian, debu kendaraan dan ban, sisa pembakaran terbuka sampah plastik, serta degradasi plastik di lingkungan terbuka," katanya saat dihubungi detikcom, Kamis (16/10/2025).

Temuan ini ternyata tak cuma terjadi di Jakarta, tapi hampir di seluruh penjuru bumi. Air hujan kini membawa beban polusi modern yang sangat sulit dihilangkan: mikroplastik dan PFAS (perfluoroalkyl dan polyfluoroalkyl substances), yang dikenal sebagai "zat kimia abadi" (forever chemicals).

Mikroplastik Ada di Air Hujan di Seluruh Penjuru Bumi
Dikutip dari laman VOX, penelitian telah mendokumentasikan mikroplastik dalam air hujan yang jatuh di seluruh dunia, termasuk di wilayah terpencil dan tak berpenghuni. Ini menegaskan bahwa masalah pencemaran plastik di air hujan merupakan masalah global akibat pencemaran lingkungan.

Sebuah analisis pada tahun 2020 di jurnal Science mendokumentasikan mikroplastik di air hujan yang jatuh di beberapa taman nasional dan wilayah terpencil di Amerika Serikat bagian Barat. Mayoritas adalah mikrofiber yang berasal dari pakaian poliester atau karpet.

Sumber terbesar mikroplastik ini adalah jalan raya (sisa pecahan ban dan sampah plastik yang tertiup angin) dan lautan. Ketika ombak pecah, partikel plastik mikroskopis terlempar ke udara dan terbawa angin.

Janice Brahney, ahli biogeokimia di Utah State University, menyatakan masalah plastik ini jauh lebih buruk daripada masalah hujan asam (acid rain) sebelumnya.

"Dengan hujan asam, kita bisa menghentikan emisi prekursor asam, dan hujan asam akan berhenti. Tetapi kita tidak bisa menghentikan siklus mikroplastik lagi. Partikel-partikel ini tidak terurai dalam skala waktu yang relevan," katanya.

Picu Masalah Kesehatan Serius
Polutan-polutan ini meresap ke sumber air minum, dan meskipun instalasi pengolahan air dapat menghilangkan sebagian, sejumlah besar masih tersisa, membuat manusia dan satwa liar terpapar bahan kimia yang terkait dengan kanker, penyakit ginjal, dan gangguan kekebalan tubuh.

Mengutip BBC, manusia diperkirakan mengonsumsi hingga 52.000 mikroplastik per tahun baik melalui makanan, minuman, maupun udara yang kita hirup, mikroplastik telah tersebar luas. Mikroplastik telah ditemukan dalam cairan tubuh, mulai dari air liur dan darah hingga dahak dan ASI, serta berbagai organ tubuh termasuk hati, ginjal, limpa, otak, dan bahkan bagian dalam tulang manusia.

Sejumlah studi menemukan mikroplastik dapat menyebabkan peradangan, stres oksidatif, dan kerusakan sel pada manusia, dan studi menunjukkan kaitannya dengan masalah kesehatan serius seperti penyakit kardiovaskular, kanker tertentu, dan penyakit neurodegeneratif.

Mikroplastik dapat terakumulasi di organ dan jaringan, berpotensi mengganggu fungsi dan kesehatan normal, dan bahan kimia yang dikandungnya juga dapat berkontribusi terhadap kerusakan tubuh.

(NF/Detik.com)

Obat Sirup India Kembali Makan Korban, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
07 Okt 2025 Umum IT Poltek

Kasus obat sirup beracun yang melibatkan produk buatan India kembali menggemparkan dunia. Setelah sebelumnya menewaskan puluhan anak di Gambia dan Uzbekistan, kini tragedi serupa terjadi di dalam negeri India.
Pada tahun 2022, dunia dikejutkan oleh laporan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang mengungkapkan bahwa lebih dari 66 anak di Gambia tewas setelah mengonsumsi sirup batuk yang diproduksi oleh Maiden Pharmaceuticals, perusahaan farmasi India.

Obat ini terkontaminasi dengan dietilen glikol, zat beracun yang dapat merusak ginjal dan menyebabkan gagal organ. Kasus serupa juga terjadi di Uzbekistan, dengan 18 anak meninggal setelah mengonsumsi obat sirup yang sama.

Terjadi Juga di Tahun 2023
Pada tahun 2023, kasus obat sirup beracun juga menghantam India. Beberapa anak dilaporkan keracunan setelah mengonsumsi sirup batuk yang terkontaminasi dengan zat berbahaya. Dalam kasus ini, meskipun tidak ada laporan kematian, gejala yang dialami anak-anak yang terkontaminasi serupa dengan yang terjadi di Gambia dan Uzbekistan.

Obat-obatan yang diproduksi oleh Norris Medicines terkontaminasi dietilen glikol (DEG) atau etilen glikol (EG), kontaminan yang sama yang ditemukan dalam sirup obat batuk yang menyebabkan kematian 114 anak di Gambia, Uzbekistan, dan Kamerun sejak pertengahan tahun 2022.

Ditemukan Lagi Cemaran DEG di Obat Batuk Sirup
India kembali menghadapi kasus kematian anak akibat pemberian sirup obat batuk. Hingga Sabtu kemarin, tercatat 16 anak meninggal dunia setelah mengonsumsi sirup obat batuk merek Coldrif.

Menyusul kabar tersebut, kepolisian setempat menangkap dr Praveen Soni, dokter yang meresepkan sirup obat batuk terkontaminasi dietilen glikol (DEG) di luar ambang batas yang ditolerir.

Pemerintah Madhya Pradesh pada hari Sabtu melarang penjualan dan distribusi sirup obat batuk Coldrif setelah tes mengonfirmasi adanya zat beracun dalam sampel yang dikumpulkan dari batch yang sama terkait dengan kematian 16 anak, sembilan sebelumnya dan dua lainnya dilaporkan kemudian, di Chhindwara.

Keamanan Obat-obatan India Dipertanyakan
Diberitakan BBC, banyak yang percaya bahwa India selalu berjuang melawan banjir obat palsu, yang sebagian besar dijual di kota-kota kecil dan desa-desa.

Namun, para analis mengatakan bahwa dokter dan pasien mungkin mencampuradukkan obat-obatan di bawah standar dengan apa yang mereka anggap sebagai obat palsu. Laboratorium pengujian obat milik negara di banyak negara bagian kekurangan dana, kekurangan staf, dan peralatan yang buruk.

Catatan resmi pemerintah mengungkapkan bahwa antara tahun 2007 dan 2020, lebih dari 7.500 obat yang diambil sampelnya hanya di tiga dari 28 negara bagian dan tiga wilayah persatuan di India telah gagal dalam uji mutu dan dinyatakan sebagai obat 'tidak berkualitas standar'.


Pakar Bongkar Tanda Peringatan Awal Sebelum Serangan Jantung-Stroke Terjadi
30 Sep 2025 Umum IT Poltek

Sebuah studi besar mengungkapkan bahwa hampir setiap orang yang mengalami serangan jantung, stroke, atau gagal jantung menunjukkan tanda-tanda peringatan jauh sebelum kejadian pertama terjadi.
Para ilmuwan di Amerika Serikat menemukan bahwa lebih dari 99 persen pasien memiliki setidaknya satu faktor risiko penyakit tersebut, meski merasa dirinya sehat. Mereka mengatakan empat tanda bahaya tersebut adalah tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, gula darah tinggi, dan kebiasaan merokok.

Temuan ini, yang diambil dari catatan kesehatan lebih dari 9 juta orang dewasa di Korea Selatan dan hampir 7 ribu orang di AS, menepis mitos bahwa penyakit jantung sering menyerang tanpa peringatan.

Kami pikir studi ini menunjukkan dengan sangat meyakinkan bahwa paparan terhadap satu atau lebih faktor risiko non-optimal sebelum dampak kardiovaskular ini hampir 100 persen," tulis Profesor Philip Greenland, penulis senior dari Universitas Northwestern di Chicago, dikutip dari The Sun.

"Tujuannya sekarang adalah bekerja lebih keras untuk menemukan cara mengendalikan faktor-faktor risiko yang dapat dimodifikasi ini, daripada menyimpang dari jalur dalam mencari faktor-faktor lain yang tidak mudah diobati dan tidak kausal," sambungnya.

Tekanan darah tinggi sejauh ini merupakan penyebab yang paling umum, muncul pada lebih dari 95 persen pasien di Korea Selatan dan lebih dari 93 persen di AS, sebelum terjadi serangan jantung atau stroke pertama mereka.

Bahkan, wanita di bawah 60 tahun yang sering dianggap berisiko lebih rendah, juga terpengaruh, dengan lebih dari 95 persen menunjukkan setidaknya satu tanda bahaya.

"Mitos bahwa penyakit kardiovaskular sering terjadi tanpa tanda-tanda peringatan perlu dibantah," tutur Dr Greenland.

"Kita harus memfokuskan perhatian kita pada pendeteksian dan pengelolaan faktor-faktor risiko yang sangat umum dan dapat dimodifikasi ini."

Penelitian yang dipublikasikan di Journal of the American College of Cardiology ini muncul saat penyakit kardiovaskular menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia. Diperkirakan, 19,8 juta orang meninggal dunia akibat penyakit jantung dan peredaran darah setiap tahun di seluruh dunia, hampir satu dari tiga kematian.

Melihat hal itu, para ahli menegaskan untuk selalu memeriksakan tekanan darah secara teratur. Selain itu, disarankan untuk menghentikan kebiasaan merokok, mulai mengontrol kolesterol, dan gula darah yang perlahan bisa mencegah munculnya kasus ini setiap tahun.


Rapat kegiatan Monev Kuliah Pakar Prodi D-IV Promosi Kesehatan Politeknik kaltara
29 Sep 2025 Umum IT Poltek

Rapat kegiatan Monev Kuliah Pakar Prodi D-IV Promosi Kesehatan Politeknik kaltara

Kata Riset, Risiko Kena Sakit Jantung Bisa Dilihat Lewat Ukuran Leher-leher
29 Sep 2025 Umum IT Poltek

Salah satu ukuran yang seringkali dikaitkan dengan masalah kardiovaskular adalah lingkar perut. Ini berkaitan dengan kondisi obesitas sentral alias banyaknya lemak visceral yang memiliki hubungan kuat dengan penyakit jantung dan pembuluh darah.
Sedikit berbeda, peneliti dari Kingston University Inggris mencoba mencari indikator lain, yaitu ukuran lingkar leher. Mereka mengungkapkan orang dengan lingkar leher lebih besar lebih berisiko mengalami penyakit serius.

"Penelitian menunjukkan bahwa orang dengan leher lebih besar dibanding ukuran tubuhnya memiliki risiko lebih tinggi terkena berbagai penyakit serius," kata dosen senior Ahmed Elbediwy dan Nadine Wehida dikutip dari IFLScience, Minggu (28/9/2025).

Elbediwy dan Wehida juga menyoroti sejumlah penelitian yang menunjukkan lingkar leher berkolerasi dengan tekanan darah tinggi, fibrilasi atrium (irama jantung tidak normal), serta penyakit arteri koroner. Ada juga kaitan dengan diabetes tipe dua dan sleep apnea obstruktif.

Sebuah studi tahun 2025 juga mengaitkan lingkar leher besar dengan sindrom ovarium polikistik atau PCOS, meski peneliti menekankan perlunya studi lebih lanjut dengan populasi yang lebih beragam.

Lantas, berapa ukuran leher yang sudah dianggap 'berisiko' memicu penyakit serius?

"Bagi pria, 17 inci (43 cm) atau lebih meningkatkan risiko kesehatan. Bagi wanita, ambang batasnya 14 inci (35,5 cm) atau lebih," tulis Elbediwy dan Wehida, mengutip data Framingham Heart Study, penelitian jangka panjang tentang penyakit kardiovaskular.

Penelitian yang dikutip menemukan ukuran leher berkorelasi secara statistik dengan fibrilasi atrium, bahkan setelah indikator lain telah disesuaikan. Indikator lain yang dimaksud meliputi indeks massa tubuh, lingkar pinggang, tinggi badan, dan berat badan, walaupun kaitannya tetap paling kuat pada orang obesitas.

Peneliti menegaskan masih perlu penelitian mengetahui apakah ada hubungan sebab-akibat


Proses Belajar Mengajar Semester Ganjil Politeknik kaltara
18 Sep 2025 Umum IT Poltek

Proses Belajar Mengajar Semester Ganjil Politeknik kaltara Pada Hari Kamis 18/September/2025