Peliknya Masalah Gizi Anak di Balik Viralnya Kasus Kecacingan di Indonesia
Kasus balita di Bengkulu yang mengeluarkan cacing dari mulut dan hidung baru-baru ini menyita perhatian publik. Balita bernama Khaira Nur Sabrina, usia 1 tahun 8...
Kumpulan artikel dan informasi terbaru Politeknik Kaltara yang disajikan lebih rapi, nyaman dibaca, dan mudah dijelajahi.
Kasus balita di Bengkulu yang mengeluarkan cacing dari mulut dan hidung baru-baru ini menyita perhatian publik. Balita bernama Khaira Nur Sabrina, usia 1 tahun 8...
Kasus balita di Bengkulu yang mengeluarkan cacing dari mulut dan hidung baru-baru ini menyita perhatian publik. Balita bernama Khaira Nur Sabrina, usia 1 tahun 8 bulan, diketahui mengalami infeksi cacing gelang (Ascaris lumbricoides) dengan kondisi gizi buruk, anemia, hingga adanya larva cacing di paru-paru.
Sebelumnya, kasus serupa juga ditemukan di Sukabumi, Jawa Barat. Seorang balita, Raya, meninggal karena sepsis dan mengeluarkan cacing dari tubuhnya.
Menanggapi hal ini, Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono menekankan pentingnya faktor kebersihan (higiene) dan gizi dalam mencegah penyakit tersebut. Ia mengingatkan, edukasi harus digencarkan agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Fenomena ini membuka mata bahwa kecacingan bukan hanya persoalan medis biasa, melainkan masalah gizi dan kesehatan masyarakat yang kompleks. Infeksi cacing dapat mengganggu penyerapan nutrisi, memicu anemia, hingga menghambat tumbuh kembang anak. Kasus-kasus tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa peran gizi seimbang, perilaku hidup bersih, serta akses layanan kesehatan yang baik merupakan pondasi utama dalam mencegah penyakit yang kerap luput dari perhatian ini.
Kecacingan dan Kaitannya dengan Gizi Anak
Cacingan terjadi akibat infeksi cacing parasit yang umumnya ditularkan melalui tanah atau makanan yang terkontaminasi. Tidak pakai alas kaki, tidak mencuci tangan dengan benar, dan buang air sembarangan adalah penyebab lainnya.
Pada anak-anak, kondisi kecacingan bisa menimbulkan dampak serius. Cacing yang bersarang di usus menyerap nutrisi dari makanan yang seharusnya digunakan tubuh untuk tumbuh kembang. Akibatnya, anak bisa mengalami penurunan nafsu makan, anemia, kekurangan energi kronis, hingga gagal tumbuh (stunting). Jika tidak segera ditangani, bahkan kecacingan dapat menimbulkan infeksi yang berat seperti perdarahan saluran cerna, kerusakan organ vital tertentu, hingga kematian.
Menurut World Health Organization (WHO), pada tahun 2023, lebih dari 267 juta anak prasekolah di dunia berisiko mengalami infeksi cacing, dan sebagian besar berada di negara berkembang, termasuk Indonesia. Infeksi ini tidak hanya menyebabkan gangguan fisik, tetapi juga bisa menurunkan konsentrasi dan prestasi belajar anak karena tubuh kekurangan zat gizi penting, terutama vitamin A, zat besi, dan protein.
Dampak Cacingan pada Status Gizi
Balita adalah kelompok usia yang paling rentan terhadap dampak gizi buruk akibat cacingan. Salah satu penelitian yang menemukan bahwa anak yang mengalami kecacingan memiliki risiko lebih tinggi mengalami underweight dan anemia dibandingkan anak yang tidak terinfeksi diterbitkan dalam Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia pada tahun 2019.
Studi dalam Jurnal Ilmu Biologi dan Pendidikan Biologi menemukan bahwa kecacingan juga dapat memperburuk defisiensi zat gizi makro dan zat gizi mikro, seperti vitamin A dan zinc, yang berperan penting dalam imunitas. Anak yang terinfeksi cacing lebih mudah terserang penyakit infeksi lain, sehingga terjadi gizi buruk yang dapat memperlemah daya tahan tubuh, cacing semakin berkembang, dan kesehatan anak kian memburuk.
Pendapat Ahli: Masalah Gizi dan Pelayanan Kesehatan
Prof dr Tjandra Yoga Aditama, SpP(K), Direktur Pascasarjana Universitas YARSI sekaligus Adjunct Professor Griffith University, menilai kasus di Bengkulu mencerminkan tiga hal penting. Pertama, kecacingan masih banyak ditemukan pada anak Indonesia dan tergolong penyakit tropis yang terabaikan. Kedua, kondisi ini berkaitan erat dengan kekurangan gizi pada anak yang masih menjadi tantangan besar di masyarakat. Ketiga, penguatan layanan rumah sakit sangat diperlukan, terutama dalam kemampuan menangani kasus kecacingan berat.
Pernyataan ini menegaskan bahwa persoalan kecacingan tidak bisa hanya diselesaikan dengan obat cacing massal, tetapi juga membutuhkan pendekatan menyeluruh yaitu mulai dari gizi, kebersihan lingkungan, hingga kapasitas fasilitas kesehatan.
Peran Pemerintah, Tenaga Kesehatan, dan Masyarakat
Pemerintah memiliki peran besar dalam program pencegahan kecacingan nasional, salah satunya dengan pemberian obat cacing secara massal dua kali setahun bagi anak usia sekolah. Namun, keberhasilan program ini bergantung pada konsistensi pelaksanaan dan cakupan yang merata, termasuk di daerah pedesaan dan terpencil.
Tenaga kesehatan di lapangan perlu aktif memberikan edukasi gizi dan higiene kepada orang tua, guru, dan anak-anak. Misalnya, pentingnya mencuci tangan dengan sabun, memasak makanan hingga matang, dan minum air bersih. Selain itu, pemantauan status gizi anak melalui posyandu juga penting agar kasus gizi buruk akibat kecacingan bisa dideteksi lebih dini.
Masyarakat sendiri memiliki peran dalam membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Sebagaimana yang terdapat di dalam Permenkes No. 15 Tahun 2017 PHBS dapat dilakukan melalui cuci tangan pakai sabun, menggunakan air bersih untuk rumah tangga, menjaga kebersihan dan keamanan makanan, menggunakan jamban sehat, mengupayakan kondisi lingkungan yang sehat. Orang tua juga perlu memastikan anak-anak tidak bermain di tanah tanpa alas kaki, menjaga kebersihan kuku, serta menyediakan makanan bergizi seimbang di rumah. Partisipasi aktif masyarakat dapat memperkuat program pemerintah dan tenaga kesehatan dalam menurunkan angka kecacingan.
Pencegahan dari Sisi Gizi
Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan dari sisi gizi dan kesehatan anak agar kasus serupa tidak terulang:
1. Pemberian makanan bergizi seimbang
Sumber protein hewani (ikan, telur, daging ayam, hati) penting untuk pertumbuhan dan memperbaiki jaringan tubuh.
Sayur dan buah kaya vitamin serta mineral untuk daya tahan tubuh.
2. Pencegahan anemia dengan zat besi
Balita perlu asupan zat besi dari daging merah, hati, atau suplemen sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Vitamin C dari buah segar membantu penyerapan zat besi lebih optimal.
3. Sanitasi dan perilaku hidup bersih
Cuci tangan dengan sabun sebelum makan.
Gunakan alas kaki saat bermain di luar.
Jaga kebersihan rumah dan lingkungan dari kotoran hewan.
4. Program pemberian obat cacing rutin
WHO dan Kementerian Kesehatan RI menganjurkan anak usia 1-12 tahun diberi obat cacing setiap enam bulan sekali.
/
Tubuh manusia sangat bergantung pada hati atau liver, karena itu merupakan salah satu organ esensial yang menjalankan lebih dari 500 fungsi. Liver berfungsi sebagai...
Tubuh manusia sangat bergantung pada hati atau liver, karena itu merupakan salah satu organ esensial yang menjalankan lebih dari 500 fungsi. Liver berfungsi sebagai pembersih racun dalam darah, mengolah nutrisi makanan, penghasil empedu, dan pengontrol gula darah.
Hati membutuhkan hidrasi yang tepat agar berfungsi dengan baik, karena memproses semua zat yang kita konsumsi melalui makanan dan minuman. Meski air putih menjadi sumber hidrasi utama, ada beberapa minuman lain yang dapat memberikan perlindungan tambahan untuk kesehatan hati.
1. Minuman Campuran Lemon dan Jahe
Kombinasi air lemon dan jahe berfungsi sebagai metode alami untuk meningkatkan proses detoksifikasi hati. Konsentrasi vitamin C dan antioksidan yang tinggi dalam lemon memungkinkan tubuh untuk membuang racun sekaligus meningkatkan kinerja enzim hati.
2. Teh Hijau
Teh hijau memberikan manfaat untuk hati karena mengandung antioksidan tinggi, termasuk epigallocatechin gallate (EGCG). Antioksidan ini melindungi sel-sel hati dari kerusakan akibat stres oksidatif dan peradangan.
Konsumsi teh hijau secara teratur terbukti mengurangi penumpukan lemak di hati dan meningkatkan pengukuran enzim hati, yang melindungi dari penyakit hati berlemak non-alkohol (NAFLD). Minum secara rutin 2-3 cangkir teh hijau per hari juga membantu hati mendetoksifikasi lebih baik sekaligus mengurangi peradangan.
3. Jus Buah Bit atau Beetroot
Jus buah bit mengandung nutrisi seperti betaine dan betalain yang menutrisi hati. Betaine berfungsi mengurangi penumpukan lemak dan peradangan.
Antioksidan dalam betalain juga membantu melindungi sel-sel hati dari zat beracun dan kerusakan akibat stres oksidatif. Penelitian menunjukkan konsumsi jus buah bit secara teratur menghasilkan peningkatan hasil enzim hati, yang menunjukkan fungsi organ yang lebih baik dalam memproses toksin.
4. Kopi
Penelitian menunjukkan minum kopi dalam jumlah sedang memberikan manfaat dan perlindungan bagi sistem hati. Antioksidan dan senyawa spesifik dalam kopi bekerja untuk mengurangi peradangan hati, yang membantu mencegah sirosis dan perkembangan kanker hati.
Selain itu, penelitian juga mengungkapkan bahwa minum dua cangkir kopi setiap hari dapat membantu menghentikan perkembangan fibrosis hati dan merangsang pertumbuhan sel hati baru. Hati mendapat manfaat dari autofagi yang terjadi untuk menghilangkan sel-sel yang rusak dan menjaga jaringan tetap sehat.
Disarankan minum kopi hitam tanpa tambahan gula atau krim, agar mendapatkan kesehatan hati yang paling efektif.
5. Teh Detoks Hati Herbal
Teh herbal tertentu secara tradisional telah digunakan untuk mendukung kesehatan hati dan meningkatkan fungsi detoksifikasinya. Teh milk thistle, kaya akan silymarin yang melindungi sel-sel hati dari racun dan mendorong regenerasi.
Teh kunyit memiliki efek anti-inflamasi dan antioksidan yang mengurangi peradangan hati dan stres oksidatif. Konsumsi teh herbal ini secara teratur dapat meningkatkan kemampuan pembersihan alami hati, dan meningkatkan kesehatan hati secara keseluruhan.
Kegiatan Pendampingan Pelaporan Operator PDDIKTI PT Di Samarinda Pada Hari Senin Tanggal...
Kegiatan Pendampingan Pelaporan Operator PDDIKTI PT Di Samarinda Pada Hari Senin Tanggal 15/09/2025
Rapat Persiapan JOB Prepration Program (JPP) Politeknik Kaltara Pada hari Senin Tanggal...
Rapat Persiapan JOB Prepration Program (JPP) Politeknik Kaltara Pada hari Senin Tanggal 15/09/2025
Saat berada di luar ruangan menjelang senja, nyamuk sering jadi tamu tak diundang, dan biasanya ada saja yang mulai mengeluh gatal karena gigitannya. Hal ini wajar,...
Saat berada di luar ruangan menjelang senja, nyamuk sering jadi tamu tak diundang, dan biasanya ada saja yang mulai mengeluh gatal karena gigitannya. Hal ini wajar, karena nyamuk adalah serangga yang selektif, beberapa orang memang lebih sering menjadi sasaran dibanding yang lain.
Sejumlah faktor bisa menjelaskan fenomena ini. Misalnya, dalam sebuah studi terkontrol yang dipublikasikan di Journal of Medical Entomology, peneliti menemukan nyamuk lebih suka hinggap pada orang dengan golongan darah O hampir dua kali lebih sering dibanding mereka yang bergolongan darah A.
Berkaitan dengan Zat di Tubuh
Para peneliti menjelaskan hal ini berkaitan dengan zat sekresi tubuh yang dapat memberi 'petunjuk' bagi nyamuk mengenai golongan darah seseorang.
Jonathan F Day, profesor entomologi dari University of Florida, menjelaskan masih dibutuhkan lebih banyak penelitian untuk memastikan apakah nyamuk memang lebih menyukai golongan darah tertentu dibanding yang lain.
Namun, ia sepakat bahwa nyamuk menangkap sejumlah sinyal dari tubuh manusia yang membuat mereka lebih tertarik untuk hinggap pada orang tertentu.
"Sinyal-sinyal itu memberitahu mereka bahwa ada sumber darah," kata Day.
"Mungkin karbon dioksida (CO2) adalah yang paling penting. Jumlah CO2 yang dihasilkan seseorang, misalnya pada orang dengan metabolisme tinggi karena faktor genetik atau lainnya, akan lebih besar. Semakin banyak CO2 yang dilepaskan, semakin menarik pula orang tersebut bagi serangga ini," lanjutnya.
Lalu, apa yang membedakan manusia dari benda mati seperti mobil yang juga mengeluarkan CO2? Menurut Day, nyamuk tidak hanya mengandalkan 'sinyal utama; seperti CO2, tetapi juga mencari apa yang ia sebut sebagai 'sinyal sekunder'.
Asam laktat, zat yang biasanya menyebabkan otot terasa kram saat berolahraga, ternyata juga menjadi salah satu 'sinyal sekunder' yang ditangkap nyamuk. Day menjelaskan, asam laktat dilepaskan melalui kulit, memberi isyarat pada nyamuk bahwa tubuh kita adalah target.
Selain itu, nyamuk memiliki kemampuan lain untuk mendeteksi sinyal sekunder.
"Nyamuk memiliki penglihatan yang sangat baik, tetapi mereka biasanya terbang rendah untuk menghindari angin," kata Day.
"Mereka bisa membedakan tubuh kita dari latar belakang cakrawala. Jadi, cara berpakaian juga berpengaruh. Kalau memakai pakaian gelap, kita lebih menarik perhatian nyamuk karena terlihat lebih jelas, sedangkan pakaian terang tidak terlalu mencolok."
Begitu hinggap di tubuh, nyamuk juga memanfaatkan 'sinyal taktil'.
"Panas tubuh adalah sinyal taktil yang sangat penting," lanjut Day.
"Ini berkaitan dengan faktor genetik atau perbedaan fisiologis. Beberapa orang cenderung memiliki suhu tubuh sedikit lebih hangat. Saat nyamuk mendarat, mereka akan mencari area di mana darah berada dekat dengan permukaan kulit."
Artinya, orang dengan suhu tubuh yang sedikit lebih tinggi lebih berisiko digigit nyamuk.
Gaya Hidup Mungkin Berperan
Melissa Piliang, seorang dokter kulit di Cleveland Clinic, mengatakan gaya hidup dan faktor kesehatan juga bisa berperan.
"Jika suhu tubuh lebih tinggi, misalnya karena banyak bergerak, berolahraga, atau mengonsumsi alkohol, maka Anda akan lebih menarik bagi nyamuk," kata Piliang.
"Kehamilan atau kelebihan berat badan juga dapat meningkatkan laju metabolisme."
Sebuah penelitian bahkan menunjukkan bahwa orang yang hanya minum satu kaleng bir lebih berisiko menarik nyamuk dibanding mereka yang tidak minum. Padahal, minum di luar ruangan sering menjadi aktivitas populer di musim panas dan gugur.
"Jika Anda bergerak sepanjang hari mengerjakan halaman, lalu berhenti saat senja dan minum bir di teras, Anda pasti berisiko digigit," kata Piliang.
Rapat Kordinasi Persiapan Perkuliahan Prodi D-III Farmasi Politeknik Kaltara Pada Hari Jumat...