mail@poltekkaltara.ac.id +628125406278 Jl. P. Lumpuran, Kampung 1 Skip, Tarakan Tengah, Kota Tarakan, Kalimantan Utara
Informasi Publik

Berita

Kumpulan artikel dan informasi terbaru Politeknik Kaltara yang disajikan lebih rapi, nyaman dibaca, dan mudah dijelajahi.

5 Kesalahan Saat Diet yang Bikin Gagal Turunkan Gula Darah
04 Jul 2025 Umum IT Poltek

Banyak orang yang menjalani diet dengan harapan bisa menurunkan gula darah dan menjaga kesehatan tubuh. Namun, mungkin ada yang kecewa karena hasilnya tak sesuai harapan.
Ketika ingin menurunkan gula darah, tak cukup dengan menghindari makanan manis dan makanan olahan secara berlebihan. Perlu diperhatikan beberapa kesalahan saat diet yang justru dapat berkontribusi pada kenaikan gula darah.

Kesalahan Saat Diet yang Bikin Gagal Turunkan Gula Darah
Kesalahan-kesalahan berikut ini perlu diperhatikan agar diet yang dijalankan dapat menurunkan gula darah.

1. Melewatkan Sarapan
Melewatkan sarapan merupakan kesalahan umum yang bisa berdampak serius pada risiko diabetes. Dikutip dari laman Health Shots, ketika tidak sarapan, seseorang bisa makan berlebihan di waktu makan berikutnya yang selanjutnya mengganggu sensitivitas insulin, seiring berjalannya waktu.

Sementara itu, sarapan yang seimbang dapat membantu mengatur kadar gula darah sepanjang hari.

2. Mengonsumsi Alkohol Berlebihan
Ahli gizi yang berbasis di Mumbai dan UEA, Nupuur Patil mengatakan bahwa minum alkohol dalam jumlah yang banyak bisa menghambat manajemen berat badan dan memengaruhi kadar gula darah. Hal ini berpotensi meningkatkan risiko diabetes tipe 2.

3. Kekurangan Serat
Pola makan rendah serat bisa memengaruhi kadar gula darah dan sensitivitas insulin. Untuk itu, konsumsi makanan kaya serat, seperti buah-buahan, sayur-sayuran, biji-bijian utuh, dan kacang-kacangan untuk membantu memperlambat penyerapan glukosa serta meningkatkan kontrol gula darah yang lebih baik.

4. Terus Menerus Mengonsumsi Pemanis Buatan
Pemanis buatan seperti stevia, sukralosa, dan sakarin memang tidak meningkatkan kadar gula darah. Namun, ada beberapa bukti bahwa pemanis buatan bisa meningkatkan kadar insulin dalam darah.

Terdapat kemungkinan ada hubungan antara penggunaan pemanis buatan jangka panjang dan resistensi insulin. Meski demikian, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui hubungan keduanya.

Dikutip dari laman GoodRX, pemanis buatan juga bisa meningkatkan frekuensi hipoglikemia reaktif (gula darah setelah makan). Sebab, pemanis buatan bisa menyebabkan peningkatan insulin yang menurunkan gula darah. Jadi, meskipun pemanis buatan tidak meningkatkan gula darah secara langsung, tetap saja pemanis buatan bisa menyebabkan kadar gula darah tidak terkontrol dengan baik.

Menurut jurnal berjudul "Artificial Sweeteners and Risk of Type 2 Diabetes in the Prospectiver NutiNet-Sante Cohort", terdapat temuan hubungan positif antara asupan pemanis buatan dan peningkatan risiko diabetes tipe 2. Hal ini memperkuat bukti bahwa zat aditif tersebut mungkin bukanlah alternatif gula yang aman.

5. Kurang Minum Air
Tidak minum air dengan cukup dapat meningkatkan kadar gula darah. Dikutip dari laman Nature Field, hal ini terjadi karena darah menjadi lebih pekat saat tubuh mengalami dehidrasi. Pada akhirnya kondisi ini bisa menyebabkan kadar gula darah meningkat. Kebanyakan orang dewasa membutuhkan antara 2-4 liter air per hari.

Tips Mengelola Kadar Gula Darah
Melakukan diet dengan pola makan sehat perlu dilakukan untuk mengelola kadar gula darah. Selain itu berolahraga, mengelola berat badan, dan memantau gula darah juga tak kalah penting.

1. Olahraga
Olahraga bisa membantu menurunkan risiko terkena diabetes tipe 2. Dikutip dari laman Healthline, olahraga dapat membantu otot menggunakan gula darah untuk energi dan kontraksi otot.

2. Kelola Berat Badan
Jaga berat badan tetap sehat untuk membantu mencegah, menunda, atau mengelola diabetes. Makan berlebihan secara terus menerus, terutama jika disertai dengan pilihan makanan yang salah bisa menyebabkan penambahan berat badan dan obesitas, yang merupakan faktor risiko utama diabetes tipe 2. Obesitas bisa menyebabkan resistensi insulin dan berdampak negatif pada kemampuan tubuh dalam menggunakan insulin secara efektif.

3. Kelola Stres
Stres bisa memengaruhi kadar gula darah. Saat stres, tubuh mengeluarkan hormon yang disebut dengan glukagon dan kortisol yang menyebabkan kadar gula darah meningkat. Beberapa strategi manajemen stres di antaranya:

*Meditasi
*Olahraga
*Menulis jurnal
*Psikoterapi
*Melakukan aktivitas yang disukai

4. Pantau Gula Darah
Pemantauan gula darah secara teratur bisa membantu memahami, bagaimana makanan, aktivitas, dan gaya hidup bisa memengaruhi gula dan memicu penyaki

(NK/dtk)



Kegiatan Ujian Seminer Hasil PRODI DIII- Keperawatan polteknik Kaltara
03 Jul 2025 Umum IT Poltek

Kegiatan ini merupakan bagian dari proses akademik bagi mahasiswa program studi DIII-keperawatan di politeknik kaltara pada tanggal 03/07/25  (NK)

Menggigil Tapi Gak Demam? Bisa Jadi Gejala Autoimun
03 Jul 2025 Umum IT Poltek

Ketika mulai terserang flu atau pilek, kemungkinan gejala yang menyertai adalah menggigil. Biasanya, kondisi ini disertai demam.
Meski demikian, menggigil juga bisa terjadi tanpa demam. Menurut kepala Staf Medis di Well Now Urgent Care, Hannah Cohan, NP, gejala ini tidak terlalu umum.
Rasa dingin dan demam biasanya saling berkaitan, kecuali jika ada kondisi medis atau keadaan lainnya. Salah satu kondisi yang menyebabkan menggigil tapi tidak demam adalah autoimun.

Menggigil Tanpa Demam Bisa Jadi Gejala Autoimun?

Menggigil tanpa demam bisa menjadi gejala dari kondisi autoimun seperti lupus yang mengganggu mekanisme pengaturan suhu tubuh. Dikutip dari laman My Lupus Team, biasanya, tubuh memproduksi protein yang disebut antibodi untuk melawan bakteri dan virus. Namun, pada kelainan autoimun seperti lupus, antibodi keliru dengan menargetkan organ serta jaringan tubuh.
Respon imun yang salah arah tersebut bisa menyebabkan berbagai gejala. Meski menggigil bukan gejala umum lupus, kondisi ini memiliki banyak tanda yang bisa terlihat, seperti nyeri sendi, kelelahan, nyeri dada, dan nyeri otot. Secara teori, ada kemungkinan bahwa menggigil bisa menjadi salah satu dari gejala tersebut.

Penyebab Menggigil Tanpa Demam selain Lupus

Selain karena penyakit autoimun, lupus, menggigil tanpa demam bisa disebabkan oleh berbagai penyakit lainnya seperti:
1. Hipotiroidisme
Hipotiroidisme mengacu pada kelenjar tiroid yang kurang aktif. Kelenjar tiroid memainkan peran penting dalam membuat dan melepaskan hormon yang terlibat dalam metabolisme.
"Hormon tiroid Anda adalah yang benar-benar bertanggung jawab untuk mengatur metabolisme dalam tubuh Anda, dan pada akhirnya, metabolisme Anda membantu mengendalikan seberapa dingin atau hangatnya perasaan Anda," kata Ketua dan pejabat eksekutif dari Department of Family Medicine di University of Iowa Carver College Medicine, Jeffrey Quinlan, MD.
Dikutip dari laman Men's Health, pada hipotiroidisme, kelenjar tiroid kurang aktif dan metabolisme melambat. Terkadang hal ini membuat tubuh menggigil.

2. Hipoglikemia
Hipoglikemia terjadi saat kadar gula darah seseorang turun terlalu rendah. Kondisi ini menyebabkan menggigil disertai gejala seperti berkeringat dan jantung berdebar. Dalam mencegah hipoglikemia, penting untuk menjaga kadar gula darah tetap stabil.

3. Serangan Panik
Ketakutan atau kecemasan yang menyebabkan serangan panik bisa menyebabkan menggigil. Perawat di Medical Offices of Manhattan, Hannah Cohan, NP, rasa cemas atau takut mengaktifkan respons tubuh untuk melawan atau lari. Hal tersebut memicu pelepasan hormon, seperti adrenalin.
Hormon stres bisa mempersempit pembuluh darah, mengalirkan darah ke area tubuh yang paling membutuhkannya dan menyebabkan suhu ekstremitas turun.
"Perubahan pada tubuh ini dapat menyebabkan gemetar atau menggigil, dan lain sebagainya." kata Cohan.
Selain iu, saat terjadi serangan panik, pernapasan mungkin menjadi dangkal atau cepat, sehingga mengganggu keseimbangan oksigen dan karbon dioksida tubuh. Kondisi tersebut membuat jantung berdetak lebih cepat.
"Ini mungkin membuat Anda berkeringat atau menggigil," tambahnya.

4. Perubahan Tekanan Darah
Quinlan mengatakan, menggigil bisa terjadi karena tekanan darah turun secara tiba-tiba. Menurut National Heart, Lung, and Blood Institute, saat tekanan darah terlalu rendah, organ-organ tubuh tidak mendapat cukup oksigen dan nutrisi yang bisa menyebabkan syok.
Tanda-tanda syok meliputi, kulit dingin dan berkeringat, napas cepat, serta denyut nadi lemah dan cepat.

5. Reaksi terhadap Obat
Rasa menggigil juga seringkali bisa dikaitkan dengan reaksi obat. Menurut Quinlan, hal ini terkadang juga menjadi tanda beberapa alergi yang cukup serius.
"Jadi, jika Anda baru saja memulai pengobatan baru dan mulai mengalami rasa menggigil yang berulang, itu adalah alasan untuk segera berkonsultasi dengan dokter," kata Quinlan.
Obat diabetes, anestesi umum untuk operasi, serta obat kemoterapi lebih mungkin menyebabkan rasa menggigil.

6. Infeksi Bakteri
Seringkali, infeksi bakteri yang tidak diobati terlalu lama menyebabkan demam, namun pernah juga dilaporkan ada gejala menggigil tanpa demam.
Salah satu contoh penyakit yang berkaitan dengan infeksi bakteri adalah meningitis. Penyakit ini bisa menyebabkan menggigil dengan atau tanpa demam, disertai dengan leher kaku, kepekaan terhadap cahaya dan suara, serta rasa lesu.

7. Hipotermia
Saat terpapar suhu dingin selama beberapa waktu, seseorang berisiko mengalami hipotermia. Paparan dingin menyebabkan tubuh kehilangan panas lebih cepat daripada kemampuannya menghasilkan panas, sehingga pada akhirnya menyebabkan suhu tubuh turun.
Menggigil bisa menjadi tanda awal hipotermia. Gejala lainnya meliputi rasa bingung, mengantuk, lelah, atau bicara tidak jelas.

Cara Mengatasi Menggigil Tanpa Demam
*Ada beberapa hal yang bisa dilakukan saat merasa menggigil tanpa demam. Dikutip dari laman Cleveland Clinic, berikut di antaranya:

>Kenakan pakaian hangat
>Ganti pakaian yang berkeringat atau basah sesegera mungkin
>Minum banyak air untuk mencegah dehidrasi

(NK/dtk)



Kegiatan Pembekalan PKL Prodi Farmasi
Umum 03 Jul 2025

Kegiatan Pembekalan PKL Prodi Farmasi

Kegiatan pembekalan mahasiswa ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan kesiapan kepada mahasiswa semester akhir sebelum menjalani program magang/PKL...

Kegiatan Pembekalan PKL Prodi Farmasi
03 Jul 2025 Umum IT Poltek

Kegiatan pembekalan mahasiswa ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan kesiapan kepada mahasiswa semester akhir sebelum menjalani program magang/PKL (Nk)

Kegiatan Tryout D-III Keperawatan Politeknik Kaltara
02 Jul 2025 Umum IT Poltek

Pelaksanaan Kegiatan  Tryout D-III Keperawatan Politeknik Kaltara Pada Hari Rabu/07/2025

Apa yang Terjadi di Otak Orang Pemalas? Ini Kata Ilmuwan.
02 Jul 2025 Umum IT Poltek

Jakarta - Malas terjadi ketika seseorang mampu melakukan sesuatu yang harus dilakukan, tapi enggan melakukannya. Dalam beberapa kasus, tugas akhirnya dikerjakan asal-asalan, mengalihkan diri pada hal lain yang ringan, atau bahkan diam sama sekali.
Dengan kata lain, malas terjadi ketika motivasi untuk menghindari usaha lebih besar daripada motivasi untuk melakukan hal yang benar atau diharapkan. Asumsinya, orang yang malas sebenarnya tahu apa yang seharusnya dilakukan.

Kenapa Orang Bisa Malas?
Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang lebih suka bermalas-malasan, misalnya dari sisi psikologis dan kondisi otak seseorang. Begini penjelasan dari ahli:

Otak Pemalas
Dalam sebuah penelitian di tahun 2018, ahli dari University of British Columbia Kanada menemukan bahwa otak secara alami sebenarnya memang lebih suka malas. Dalam studi ini, peneliti merekrut sejumlah orang dewasa muda, menempatkan mereka di depan komputer, dan memberi kendali di layar.

Kemudian gambar-gambar kecil ditampilkan satu per satu, menggambarkan aktivitas fisik (berlari, olahraga) atau ketidakaktifan fisik (duduk, bersantai). Peserta diminta menggerakkan avatar secepat mungkin menuju gambar aktivitas fisik dan menjauh dari gambar ketidakaktifan fisik, dan sebaliknya.

Selama tes dilakukan, peneliti melakukan perekaman pada aktivitas otak mereka. Peserta umumnya lebih cepat bergerak menuju gambar aktif dan menjauhi gambar malas. Tapi hasil rekaman otak elektroensefalogram (EEG) menunjukkan untuk menghindari gambar malas, otak mereka harus bekerja lebih keras.

"Kita sudah tahu dari studi sebelumnya bahwa orang lebih cepat menghindari perilaku sedentari (malas) dan lebih tertarik pada aktivitas fisik. Hal yang menarik dari studi kami adalah kecepatan ini ternyata membutuhkan 'biaya' penggunaan sumber daya otak yang lebih besar," kata peneliti, Matthieu Boisgontier dikutip dari India Times.

"Hasil ini menunjukkan bahwa otak kita secara alami tertarik pada perilaku malas," lanjutnya.

Kondisi Otak Orang Suka Menunda Pekerjaan
Menunda-nunda seringkali dikaitkan dengan rasa malas. Sebuah penelitian di 2023 yang diterbitkan The International Journal of Indian Psychology mengungkapkan orang yang suka menunda-nunda memiliki koneksi otak yang lebih lemah antara insula dan korteks prefrontal.

Ini mengakibatkan kesulitan dalam mengatur sensasi internal (susah mengenali sinyal tubuh) dan mengendalikan impuls (dorongan spontan untuk melakukan sesuatu). Situasi ini membuat mereka sering merasa gelisah, tidak bisa membedakan lelah dan malas, hingga mudah terdistraksi atau menunda.

Korteks prefrontal pada otak bertanggung jawab atas fungsi eksekutif seperti perencanaan, pengambilan keputusan, dan kontrol impuls. Kebiasaan menunda dapat diatasi dengan manajemen yang efektif terhadap perilaku-perilaku tersebut.

"Di sisi lain, amigdala berperan dalam memproses emosi, terutama rasa takut dan cemas, yang turut berkontribusi dalam terbentuknya kebiasaan menunda. Insula, bagian otak yang berfungsi merasakan dan mengatur sensasi tubuh dari dalam (interosepsi), juga terlibat dalam kebiasaan ini," tulis peneliti.

Perspektif Psikologi
Psikiater Neel Burton MA, MD menuturkan ada banyak faktor psikologis yang bisa memicu rasa malas. Misalnya rasa takut, keputusasaan, hingga tidak menemukan minat.

Berkaitan dengan rasa takut, menurutnya rasa malas itu bisa muncul akibat takut gagal atau bahkan takut sukses. Alih-alih menghadapi kemungkinan gagal, mereka lebih memilih untuk tidak mencoba sama sekali.

"Beberapa orang takut pada kesuksesan. Mereka merasa tidak layak atau takut akan tanggung jawab yang datang bersama keberhasilan. Akhirnya mereka menyabotase diri sendiri lewat kemalasan," katanya menyinggung soal orang-orang yang takut kesuksesan.

Menurutnya, ada juga banyak orang yang kehilangan semangat karena tidak bisa memahami tujuan atau dampak dari pekerjaan mereka. Ini juga belum ditambah faktor bahwa sebagian orang belum menemukan niatnya.

"Orang yang dianggap malas seringkali belum menemukan apa yang benar-benar ingin mereka lakukan, atau tidak bisa melakukannya karena suatu hambatan," sambungnya.

Cara Melawan Rasa Malas
Cara melawan rasa malas mungkin bisa bervariasi untuk setiap orang. Berikut ini beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menyingkirkan rasa malas:

  • Buat tujuan yang realistis untuk menghindari kewalahan.
  • Jangan menuntut kesempurnaan dari diri sendiri.
  • Berbicara positif untuk diri sendiri untuk motivasi.
  • Buat rencana aktivitas yang jelas.
  • Gunakan kekuatan dan keunggulan diri.
  • Hargai setiap pencapaian kecil yang bisa dilakukan.
  • Jangan ragu untuk meminta bantuan.
  • Hindari distraksi saat bekerja, misalnya dari sosial media.
  • Buat tugas yang membosankan menjadi menyenangkan.