Rapat Pemaparan Hasil Klinik Akreditasi Politeknik Kaltara
Rapat Pemaparan Hasil Klinik Akreditasi Politeknik Kaltara Pada Hari Senin...
Kumpulan artikel dan informasi terbaru Politeknik Kaltara yang disajikan lebih rapi, nyaman dibaca, dan mudah dijelajahi.
Rapat Pemaparan Hasil Klinik Akreditasi Politeknik Kaltara Pada Hari Senin...
Rapat Pemaparan Hasil Klinik Akreditasi Politeknik Kaltara Pada Hari Senin 04/08/2025
Masalah pembekuan darah atau gumpalan darah tidak selalu memicu gejala berat pada tahap awal. Faktanya, banyak terjadi secara diam-diam di dalam tubuh, hingga...
Masalah pembekuan darah atau gumpalan darah tidak selalu memicu gejala berat pada tahap awal. Faktanya, banyak terjadi secara diam-diam di dalam tubuh, hingga tiba-tiba menyebabkan masalah serius seperti serangan jantung, stroke, atau trombosis vena dalam atau deep vein thrombosis (DVT).
Meskipun beberapa gejalanya sudah diketahui secara luas, seperti pembengkakan kaki atau nyeri dada, beberapa keluhan lain kerap tidak disadari. Tanda-tanda tidak biasa ini kerap diabaikan dan dianggap sebagai gejala kelelahan biasa atau sekadar kram otot.
Waspadai 7 gejala yang kerap diabaikan seperti berikut, dikutip dari Times of India
Gumpalan darah, misalnya yang terjadi di paru-paru, juga dikenal sebagai emboli paru atau pulmonary embolism (PE), dapat menyebabkan batuk kering mendadak. Dalam beberapa kasus, bahkan dapat mengeluarkan sedikit darah, meskipun tidak selalu terjadi.
Gejala batuk seringkali tidak mempan saat diberikan obat sirup atau permen pelega tenggorokan karena yang terjadi bukan masalah tenggorokan, melainkan masalah di paru-paru.
Satu kaki atau tangan terasa dingin
Gumpalan darah yang menghalangi aliran darah di salah satu anggota tubuh dapat mengurangi sirkulasi, membuat satu tangan atau kaki terasa sangat dingin sementara yang lain terasa baik-baik saja. Perbedaan ini mungkin tidak terlalu terasa, tetapi perlu diperhatikan, terutama jika disertai kesemutan atau sedikit mati rasa.
Perubahan penglihatan mendadak pada satu mata
Gumpalan darah di arteri yang seharusnya memasok ke mata dapat menyebabkan penglihatan kabur atau hilang pada satu mata. Gejala ini mungkin hanya berlangsung beberapa menit, tetapi bahkan episode singkat pun dapat mengindikasikan serangan iskemik transien atau yang juga disebut 'stroke ringan'.
Nyeri saat bernapas
Gumpalan darah di paru-paru dapat menyebabkan nyeri tajam dan menusuk saat bernapas dalam-dalam. Terkadang, nyeri dapat menjalar ke bahu atau punggung atas, yang membuat orang mengira itu hanya masalah otot. Padahal, itu adalah reaksi paru-paru terhadap berkurangnya aliran oksigen.
Kulit merah dan gatal pada salah satu kaki
Gumpalan darah yang berkembang di vena dalam dapat meradang pada kulit di atasnya, menyebabkan kemerahan, gatal, dan rasa hangat, tanpa ruam atau gatal-gatal yang terlihat. Kondisi ini seringkali hanya muncul pada salah satu kaki, bukan keduanya.
Nyeri atau tekanan rahang
Dalam beberapa kasus, gumpalan darah yang berhubungan dengan masalah jantung, seperti serangan jantung, dapat menimbulkan rasa tidak nyaman pada rahang. Meskipun nyeri dada merupakan tanda klasik, pada beberapa orang (terutama wanita), tanda-tanda peringatannya jauh lebih halus dan mungkin meliputi tekanan atau rasa sesak di sekitar garis rahang atau leher.
Pembengkakan di belakang lutut
Gumpalan darah dapat bersembunyi di tempat yang kurang terlihat seperti di belakang lutut atau bahkan di daerah panggul. Jika pembengkakan muncul di area ini, terutama di salah satu sisi, dan disertai rasa berat atau nyeri tumpul, hal ini mungkin merupakan tanda bahaya.
(NF/detik.com)
Kegiatan Ujian Seminar Hasil Prodi D-IV Promosi Kesehatan Politeknik Kaltara Pada Hari Senin...
Kegiatan Ujian Seminar Hasil Prodi D-IV Promosi Kesehatan Politeknik Kaltara Pada Hari Senin 04/08/2025
Kegiatan Monev Workshop Penyusunaan Dan Pengembangan Kurikulum Berbasi Outcome Basad Education (OBE) Di Politeknik Kaltara pada hari jumat...
Kegiatan Monev Workshop Penyusunaan Dan Pengembangan Kurikulum Berbasi Outcome Basad Education (OBE) Di Politeknik Kaltara pada hari jumat 01/08/2025
Kegiatan Ujian Seminar Hasil Prodi D-IV Promosi Kesehatan Politeknik Kaltara Pada Hari Jumat...
Kegiatan Ujian Seminar Hasil Prodi D-IV Promosi Kesehatan Politeknik Kaltara Pada Hari Jumat 01/08/2025
(NF)
Gula sering dianggap sebagai salah satu penyebab dari beberapa kondisi kesehatan seperti diabetes. Terlebih, apabila makanan tinggi gula dikonsumsi secara rutin...
Gula sering dianggap sebagai salah satu penyebab dari beberapa kondisi kesehatan seperti diabetes. Terlebih, apabila makanan tinggi gula dikonsumsi secara rutin terus menerus.
Menurut dr Pritam Moon, dokter spesialis penyakit dalam di Wockhardt Hospital, Mumbai, asupan gula yang berlebihan dapat memicu penumpukan lemak dalam tubuh, yang kemudian berkontribusi terhadap obesitas, penyakit hati berlemak, dan diabetes tipe 2.
"Kondisi-kondisi ini selanjutnya dapat meningkatkan dua kali lipat risiko masalah jantung. Selain itu, perlu diingat bahwa obesitas juga meningkatkan risiko terkena kanker,
Karenanya, penting untuk lebih bijak dalam mengatur asupan gula guna menjaga kesehatan jangka panjang. Lantas, apa yang terjadi jika berhenti mengonsumsi gula selama 30 hari? Dikutip dari Times of India, berikut penjelasannya.
1. Energi meningkat
Gula memberikan lonjakan energi secara cepat, namun diikuti oleh penurunan drastis yang dapat menyebabkan tubuh merasa lelah dan lesu. Saat asupan gula hilang, tubuh mengalami tingkat energi yang lebih stabil sepanjang hari. Stabilitas kadar gula darah ini membantu mencegah fluktuasi yang biasa terjadi setelah mengonsumsi makanan manis.
Menghilangkan gula tambahan dari pola makan dapat meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi rasa lelah bahkan sejak hari ketiga. Tubuh juga mulai lebih efisien dalam menggunakan lemak sebagai sumber energi utama, sehingga stamina tetap terjaga.
Harvard Health Publishing menyebutkan mengurangi konsumsi gula dapat membantu menjaga kestabilan kadar gula darah, sekaligus mencegah lonjakan maupun penurunan yang ekstrem.
2. Berat badan menurun
Asupan gula yang tinggi, terutama dari minuman manis dan camilan, sering kali menyebabkan konsumsi kalori berlebih yang tidak dibutuhkan tubuh. Akibatnya, berat badan pun meningkat.
Penumpukan lemak, terutama di area perut, dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan diabetes tipe 2. Dengan menghilangkan gula tambahan dari pola makan, asupan kalori total cenderung menurun secara alami.
Berhenti mengonsumsi gula selama tiga puluh hari umumnya berdampak pada penurunan berat badan yang signifikan, disertai dengan berkurangnya lemak di sekitar perut. Kadar insulin yang lebih rendah memungkinkan tubuh memecah lemak dari tempat penyimpanannya secara lebih efisien. Hal ini juga membantu mengurangi rasa lapar dan meningkatkan kontrol terhadap keinginan makan berlebih.
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam The American Journal of Clinical Nutrition menunjukkan penurunan konsumsi gula berkaitan dengan berkurangnya lemak tubuh dan lingkar pinggang secara signifikan.
3. Kejernihan pikiran meningkat
Secara kimiawi, dopamin, zat di otak yang berperan dalam rasa senang dan motivasi, mengalami perubahan ketika seseorang mengonsumsi gula.
Konsumsi gula yang tinggi dalam jangka panjang memang dapat memberikan rasa senang sesaat, namun seiring waktu justru memicu perubahan suasana hati, kecemasan, serta gangguan konsentrasi.
Saat asupan gula dihentikan, otak akan beradaptasi dan mulai bekerja dengan lebih stabil dan konsisten. Sebagian besar individu yang berhenti mengonsumsi gula selama tiga puluh hari melaporkan penurunan tingkat kecemasan, disertai peningkatan kejernihan mental dan stabilitas emosi.
Gula juga dapat mengganggu ritme tidur alami, dan banyak orang merasakan kualitas tidur yang lebih baik setelah menghentikan konsumsi gula.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam Nutritional Neuroscience menunjukkan pola makan tinggi gula dikaitkan dengan peningkatan risiko depresi dan gangguan kognitif. Sebaliknya, mengurangi konsumsi gula secara signifikan dapat meningkatkan kesehatan mental.
4. Kulit tampak lebih sehat
Konsumsi gula dapat memicu peradangan pada kulit sekaligus memecah kolagen, yaitu protein yang berperan menjaga kekencangan dan keremajaan kulit. Proses ini menyebabkan munculnya kerutan, jerawat, serta kulit tampak kusam.
Menghilangkan gula dari pola makan membantu mengurangi peradangan, sehingga kulit memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan tampak lebih sehat.
Mayoritas orang yang tidak mengonsumsi gula selama sekitar satu bulan melaporkan bahwa kulit mereka mengalami lebih sedikit jerawat dan kemerahan. Mengonsumsi makanan utuh (whole foods) serta cukup minum air putih turut memperkuat manfaat ini bagi kulit.
Penelitian dermatologi yang dipublikasikan dalam Journal of the Academy of Nutrition and Dietetics membuktikan pengurangan konsumsi gula berkontribusi pada penurunan kasus jerawat dan peningkatan kesehatan kulit.
5. Kekebalan tubuh meningkat
Menghilangkan gula dari pola makan menciptakan efek perlindungan terhadap berbagai penyakit kronis. Konsumsi gula yang tinggi meningkatkan risiko terkena diabetes tipe 2, penyakit jantung, penyakit hati berlemak, dan sindrom metabolik.
Dengan mengurangi gula, tubuh akan mengalami penurunan peradangan, sekaligus meningkatkan kemampuan dalam mengatur insulin dan kadar kolesterol.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan pedoman untuk membatasi konsumsi gula tambahan tidak lebih dari 10% dari total asupan kalori harian.
(NF/detik.com)