Menggigil Tapi Gak Demam? Bisa Jadi Gejala Autoimun
Ketika mulai terserang flu atau pilek, kemungkinan gejala yang menyertai adalah menggigil. Biasanya, kondisi ini disertai demam.Meski demikian, menggigil juga bisa...
Kumpulan artikel dan informasi terbaru Politeknik Kaltara yang disajikan lebih rapi, nyaman dibaca, dan mudah dijelajahi.
Ketika mulai terserang flu atau pilek, kemungkinan gejala yang menyertai adalah menggigil. Biasanya, kondisi ini disertai demam.Meski demikian, menggigil juga bisa...
Ketika mulai terserang flu atau pilek, kemungkinan gejala yang menyertai adalah menggigil. Biasanya, kondisi ini disertai demam.
Meski demikian, menggigil juga bisa terjadi tanpa demam. Menurut kepala Staf Medis di Well Now Urgent Care, Hannah Cohan, NP, gejala ini tidak terlalu umum.
Rasa dingin dan demam biasanya saling berkaitan, kecuali jika ada kondisi medis atau keadaan lainnya. Salah satu kondisi yang menyebabkan menggigil tapi tidak demam adalah autoimun.
Menggigil Tanpa Demam Bisa Jadi Gejala Autoimun?
Menggigil tanpa demam bisa menjadi gejala dari kondisi autoimun seperti lupus yang mengganggu mekanisme pengaturan suhu tubuh. Dikutip dari laman My Lupus Team, biasanya, tubuh memproduksi protein yang disebut antibodi untuk melawan bakteri dan virus. Namun, pada kelainan autoimun seperti lupus, antibodi keliru dengan menargetkan organ serta jaringan tubuh.
Respon imun yang salah arah tersebut bisa menyebabkan berbagai gejala. Meski menggigil bukan gejala umum lupus, kondisi ini memiliki banyak tanda yang bisa terlihat, seperti nyeri sendi, kelelahan, nyeri dada, dan nyeri otot. Secara teori, ada kemungkinan bahwa menggigil bisa menjadi salah satu dari gejala tersebut.
Penyebab Menggigil Tanpa Demam selain Lupus
Selain karena penyakit autoimun, lupus, menggigil tanpa demam bisa disebabkan oleh berbagai penyakit lainnya seperti:
1. Hipotiroidisme
Hipotiroidisme mengacu pada kelenjar tiroid yang kurang aktif. Kelenjar tiroid memainkan peran penting dalam membuat dan melepaskan hormon yang terlibat dalam metabolisme.
"Hormon tiroid Anda adalah yang benar-benar bertanggung jawab untuk mengatur metabolisme dalam tubuh Anda, dan pada akhirnya, metabolisme Anda membantu mengendalikan seberapa dingin atau hangatnya perasaan Anda," kata Ketua dan pejabat eksekutif dari Department of Family Medicine di University of Iowa Carver College Medicine, Jeffrey Quinlan, MD.
Dikutip dari laman Men's Health, pada hipotiroidisme, kelenjar tiroid kurang aktif dan metabolisme melambat. Terkadang hal ini membuat tubuh menggigil.
2. Hipoglikemia
Hipoglikemia terjadi saat kadar gula darah seseorang turun terlalu rendah. Kondisi ini menyebabkan menggigil disertai gejala seperti berkeringat dan jantung berdebar. Dalam mencegah hipoglikemia, penting untuk menjaga kadar gula darah tetap stabil.
3. Serangan Panik
Ketakutan atau kecemasan yang menyebabkan serangan panik bisa menyebabkan menggigil. Perawat di Medical Offices of Manhattan, Hannah Cohan, NP, rasa cemas atau takut mengaktifkan respons tubuh untuk melawan atau lari. Hal tersebut memicu pelepasan hormon, seperti adrenalin.
Hormon stres bisa mempersempit pembuluh darah, mengalirkan darah ke area tubuh yang paling membutuhkannya dan menyebabkan suhu ekstremitas turun.
"Perubahan pada tubuh ini dapat menyebabkan gemetar atau menggigil, dan lain sebagainya." kata Cohan.
Selain iu, saat terjadi serangan panik, pernapasan mungkin menjadi dangkal atau cepat, sehingga mengganggu keseimbangan oksigen dan karbon dioksida tubuh. Kondisi tersebut membuat jantung berdetak lebih cepat.
"Ini mungkin membuat Anda berkeringat atau menggigil," tambahnya.
4. Perubahan Tekanan Darah
Quinlan mengatakan, menggigil bisa terjadi karena tekanan darah turun secara tiba-tiba. Menurut National Heart, Lung, and Blood Institute, saat tekanan darah terlalu rendah, organ-organ tubuh tidak mendapat cukup oksigen dan nutrisi yang bisa menyebabkan syok.
Tanda-tanda syok meliputi, kulit dingin dan berkeringat, napas cepat, serta denyut nadi lemah dan cepat.
5. Reaksi terhadap Obat
Rasa menggigil juga seringkali bisa dikaitkan dengan reaksi obat. Menurut Quinlan, hal ini terkadang juga menjadi tanda beberapa alergi yang cukup serius.
"Jadi, jika Anda baru saja memulai pengobatan baru dan mulai mengalami rasa menggigil yang berulang, itu adalah alasan untuk segera berkonsultasi dengan dokter," kata Quinlan.
Obat diabetes, anestesi umum untuk operasi, serta obat kemoterapi lebih mungkin menyebabkan rasa menggigil.
6. Infeksi Bakteri
Seringkali, infeksi bakteri yang tidak diobati terlalu lama menyebabkan demam, namun pernah juga dilaporkan ada gejala menggigil tanpa demam.
Salah satu contoh penyakit yang berkaitan dengan infeksi bakteri adalah meningitis. Penyakit ini bisa menyebabkan menggigil dengan atau tanpa demam, disertai dengan leher kaku, kepekaan terhadap cahaya dan suara, serta rasa lesu.
7. Hipotermia
Saat terpapar suhu dingin selama beberapa waktu, seseorang berisiko mengalami hipotermia. Paparan dingin menyebabkan tubuh kehilangan panas lebih cepat daripada kemampuannya menghasilkan panas, sehingga pada akhirnya menyebabkan suhu tubuh turun.
Menggigil bisa menjadi tanda awal hipotermia. Gejala lainnya meliputi rasa bingung, mengantuk, lelah, atau bicara tidak jelas.
Cara Mengatasi Menggigil Tanpa Demam
*Ada beberapa hal yang bisa dilakukan saat merasa menggigil tanpa demam. Dikutip dari laman Cleveland Clinic, berikut di antaranya:
>Kenakan pakaian hangat
>Ganti pakaian yang berkeringat atau basah sesegera mungkin
>Minum banyak air untuk mencegah dehidrasi
(NK/dtk)
Kegiatan pembekalan mahasiswa ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan kesiapan kepada mahasiswa semester akhir sebelum menjalani program magang/PKL...
Kegiatan pembekalan mahasiswa ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan kesiapan kepada mahasiswa semester akhir sebelum menjalani program magang/PKL (Nk)
Pelaksanaan Kegiatan Tryout D-III Keperawatan Politeknik Kaltara Pada Hari...
Pelaksanaan Kegiatan Tryout D-III Keperawatan Politeknik Kaltara Pada Hari Rabu/07/2025
Jakarta - Malas terjadi ketika seseorang mampu melakukan sesuatu yang harus dilakukan, tapi enggan melakukannya. Dalam beberapa kasus, tugas akhirnya dikerjakan...
Jakarta - Malas terjadi ketika seseorang mampu melakukan sesuatu yang harus dilakukan, tapi enggan melakukannya. Dalam beberapa kasus, tugas akhirnya dikerjakan asal-asalan, mengalihkan diri pada hal lain yang ringan, atau bahkan diam sama sekali.
Dengan kata lain, malas terjadi ketika motivasi untuk menghindari usaha lebih besar daripada motivasi untuk melakukan hal yang benar atau diharapkan. Asumsinya, orang yang malas sebenarnya tahu apa yang seharusnya dilakukan.
Kenapa Orang Bisa Malas?
Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang lebih suka bermalas-malasan, misalnya dari sisi psikologis dan kondisi otak seseorang. Begini penjelasan dari ahli:
Otak Pemalas
Dalam sebuah penelitian di tahun 2018, ahli dari University of British Columbia Kanada menemukan bahwa otak secara alami sebenarnya memang lebih suka malas. Dalam studi ini, peneliti merekrut sejumlah orang dewasa muda, menempatkan mereka di depan komputer, dan memberi kendali di layar.
Kemudian gambar-gambar kecil ditampilkan satu per satu, menggambarkan aktivitas fisik (berlari, olahraga) atau ketidakaktifan fisik (duduk, bersantai). Peserta diminta menggerakkan avatar secepat mungkin menuju gambar aktivitas fisik dan menjauh dari gambar ketidakaktifan fisik, dan sebaliknya.
Selama tes dilakukan, peneliti melakukan perekaman pada aktivitas otak mereka. Peserta umumnya lebih cepat bergerak menuju gambar aktif dan menjauhi gambar malas. Tapi hasil rekaman otak elektroensefalogram (EEG) menunjukkan untuk menghindari gambar malas, otak mereka harus bekerja lebih keras.
"Kita sudah tahu dari studi sebelumnya bahwa orang lebih cepat menghindari perilaku sedentari (malas) dan lebih tertarik pada aktivitas fisik. Hal yang menarik dari studi kami adalah kecepatan ini ternyata membutuhkan 'biaya' penggunaan sumber daya otak yang lebih besar," kata peneliti, Matthieu Boisgontier dikutip dari India Times.
"Hasil ini menunjukkan bahwa otak kita secara alami tertarik pada perilaku malas," lanjutnya.
Kondisi Otak Orang Suka Menunda Pekerjaan
Menunda-nunda seringkali dikaitkan dengan rasa malas. Sebuah penelitian di 2023 yang diterbitkan The International Journal of Indian Psychology mengungkapkan orang yang suka menunda-nunda memiliki koneksi otak yang lebih lemah antara insula dan korteks prefrontal.
Ini mengakibatkan kesulitan dalam mengatur sensasi internal (susah mengenali sinyal tubuh) dan mengendalikan impuls (dorongan spontan untuk melakukan sesuatu). Situasi ini membuat mereka sering merasa gelisah, tidak bisa membedakan lelah dan malas, hingga mudah terdistraksi atau menunda.
Korteks prefrontal pada otak bertanggung jawab atas fungsi eksekutif seperti perencanaan, pengambilan keputusan, dan kontrol impuls. Kebiasaan menunda dapat diatasi dengan manajemen yang efektif terhadap perilaku-perilaku tersebut.
"Di sisi lain, amigdala berperan dalam memproses emosi, terutama rasa takut dan cemas, yang turut berkontribusi dalam terbentuknya kebiasaan menunda. Insula, bagian otak yang berfungsi merasakan dan mengatur sensasi tubuh dari dalam (interosepsi), juga terlibat dalam kebiasaan ini," tulis peneliti.
Perspektif Psikologi
Psikiater Neel Burton MA, MD menuturkan ada banyak faktor psikologis yang bisa memicu rasa malas. Misalnya rasa takut, keputusasaan, hingga tidak menemukan minat.
Berkaitan dengan rasa takut, menurutnya rasa malas itu bisa muncul akibat takut gagal atau bahkan takut sukses. Alih-alih menghadapi kemungkinan gagal, mereka lebih memilih untuk tidak mencoba sama sekali.
"Beberapa orang takut pada kesuksesan. Mereka merasa tidak layak atau takut akan tanggung jawab yang datang bersama keberhasilan. Akhirnya mereka menyabotase diri sendiri lewat kemalasan," katanya menyinggung soal orang-orang yang takut kesuksesan.
Menurutnya, ada juga banyak orang yang kehilangan semangat karena tidak bisa memahami tujuan atau dampak dari pekerjaan mereka. Ini juga belum ditambah faktor bahwa sebagian orang belum menemukan niatnya.
"Orang yang dianggap malas seringkali belum menemukan apa yang benar-benar ingin mereka lakukan, atau tidak bisa melakukannya karena suatu hambatan," sambungnya.
Cara Melawan Rasa Malas
Cara melawan rasa malas mungkin bisa bervariasi untuk setiap orang. Berikut ini beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menyingkirkan rasa malas:
Jakarta - Bagi sebagian orang, gorengan dengan rasa gurih dan renyah merupakan camilan yang enak dikonsumsi di waktu senggang. Namun bagi pengidap kolesterol tinggi...
Jakarta - Bagi sebagian orang, gorengan dengan rasa gurih dan renyah merupakan camilan yang enak dikonsumsi di waktu senggang. Namun bagi pengidap kolesterol tinggi konsumsi gorengan.
Dikutip dari laman Health Harvard, makanan yang digoreng dalam minyak banyak merupakan termasuk asupan yang paling buruk kadar kolesterolnya. Menggoreng makanan akan meningkatkan jumlah kalori yang dikandung.
Jadi, alih-alih mengonsumsi gorengan, lebih baik untuk mengonsumsi camilan yang menyehatkan. Berikut beberapa camilan yang bisa dipilih.
Camilan Sehat Pengganti Gorengan untuk Pengidap Kolesterol Tinggi
Ada beberapa camilan rendah kolesterol yang praktis dan lezat untuk menggantikan gorengan. Dikutip dari laman Healthgrades, berikut di antaranya:
1. Coklat Hitam
Coklat hitam terbuat dari biji kakao yang mengandung banyak nutrisi. Studi pada tahun 2022 menunjukkan, coklat hitam bisa membantu menjaga kadar kolesterol dalam darah dan mengurangi LDL (kolesterol jahat) serta kolesterol total.Kendati demikian, coklat hitam mengandung kadar gula dan lemak jenuh yang tinggi. Untuk memaksimalkan manfaat kesehatan dari coklat hitam, pilih coklat yang berlabel 70 persen padatan kakao atau lebih tinggi. Coba lelehkan dan siram coklat hitam di atas camilan lain yang ramah kolesterol, seperti buah, kacang, dan oatmeal.
3. Yoghurt
Yoghurt bisa menjadi camilan cepat dan mudah yang cocok untuk diet rendah kolesterol. CDC merekomendasikan yoghurt yang rendah lemak untuk mengurangi kolesterol.
Namun, menurut analisis tahun 2020, yoghurt probiotik penh lemak juga bisa membantu mengurangi kolesterol total dan LDL. Ketika membeli yoghurt, usahakan untuk memilih produk yang mengandung sedikit atau tanpa tambahan gula.
4. Kacang-kacangan
Kacang-kacangan yang kaya nutrisi, seperti almond, kenari, dan pistachio bisa menjadi camilan lezat untuk pengidap kolesterol tinggi. Tak hanya kaya rasa, tapi kacang-kacangan juga akan memberikan rasa kenyang berkat serat dan proteinnya.
Dikutip dari laman Brown Health, camilan ini dapat membantu mengurangi kolesterol LDL karena lemak sehatnya. Tapi, pastikan untuk membatasi porsi menjadi segenggam saja, sebab kacang-kacangan tinggi kalori.
5. Buah-buahan
Buah-buahan, seperti apel, beri, jeruk, kiwi dan buah naga kaya serat dan antioksidan, sehingga bisa menurunkan kolesterol dan meningkatkan kesehatan jantung. Alpukat yang merupakan sumber lemak tak jenuh juga bisa dipilih untuk membantu meningkatkan kolesterol HDL (kolesterol baik) dan menurunkan kolesterol LDL.
Pola Makan Tidak Sehat Jadi Salah Satu Faktor Penyebab Kolesterol Tinggi
Spesialis penyakit dalam dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH mengatakan bahwa gaya hidup yang lebih modern menjadi salah satu faktor orang mengalami kolesterol tinggi. Karena pekerjaan yang padat, seseorang bisa kurang mengonsumsi makanan tidak sehat dan jarang berolahraga.
"Pemicu kolesterol tinggi itu banyak ya. Bisa karena genetik atau keturunan, kegemukan, pola makan yang tidak baik, hingga kurang olahraga," kata dr Aru ketika dihubungi oleh detikcom, Rabu (4/9/2024).
Adapun beberapa makanan yang memicu peningkatan kolesterol dalam darah yaitu junk food, jeroan, dan daging merah. Perlu diingat bahwa ciri-ciri kolesterol tinggi seringkali tidak memberikan tanda yang jelas. Adanya gangguan kesehatan baru muncul setelah masalah kolesterol tinggi tidak dikelola dengan baik selama waktu tertentu.
Kondisi beser atau sering buang air kecil tentu akan mengganggu aktivitas sehari-hari. Tentunya hal ini juga akan menimbulkan rasa tidak nyaman dalam perjalaKondisi...
Kondisi beser atau sering buang air kecil tentu akan mengganggu aktivitas sehari-hari. Tentunya hal ini juga akan menimbulkan rasa tidak nyaman dalam perjalaKondisi beser atau sering buang air kecil tentu akan mengganggu aktivitas sehari-hari. Tentunya hal ini juga akan menimbulkan rasa tidak nyaman dalam perjalanan mudik.
Jangan khawatir, ada sejumlah cara yang dapat dilakukan untuk mencegah beser dalam perjalanan. Simak informasinya berikut ini.
Tips Mencegah Beser dalam Perjalanan Mudik
Untuk mencegah beser dalam perjalanan, pastikan kamu buang air kecil sebelum berangkat. Selain itu, lakukan juga beberapa hal ini:
1. Kelola Asupan Air Minum
Mengutip arsip detikHealth, Praktisi Kesehatan RS Abdi Waluyo, dr Yuhana Fitria, SpPD menyarankan agar tidak menghindari minum untuk menghindari pipis. Jadi, tetap konsumsi cairan yang cukup agar tidak dehidrasi.
Sementara, menurut ahli urologi dari RS Mayapada, dr Akbari Wahyudi Kusumah, SpU, bagi yang tidak berpuasa saat perjalanan mudik, minum air 1 gelas sebelum perjalanan. Saat dalam perjalanan minum air secukupnya, 1 gelas cukup jika dirasa sangat haus. Tapi biasanya ini akan menimbulkan rasa ingin buang air satu jam setelahnya.
2. Hindari Minuman yang Mengandung Diuretik
Ketahui minuman apa saja yang perlu dihindari agar tidak ingin buang air kecil lebih sering. Kopi serta minuman berkafein lainnya dan minuman berkarbonasi bisa memproduksi urin lebih banyak.
3. Hindari Makanan yang Menyebabkan Haus
Selanjutnya, makanan-makanan yang menyebabkan rasa haus juga perlu dihindari. Mengutip Drink Prime, beberapa contohnya yaitu makanan yang asin dan digoreng, camilan manis, dan kue kering.
4. Rencanakan ke Toilet
Mengutip laman AARP, pendiri dan CEO Association for Pelvic Organ Prolapse Support merekomendasikan untuk merencanakan waktu ke toilet saat dalam perjalanan. Kamu bisa meluangkan 2-4 jam sekali atau waktu yang diinginkan untuk buang air kecil ke toilet.
Bahaya Sering Menahan Buang Air Kecil
Jika sudah ingin buang air kecil, jangan paksakan untuk menahannya. Hal ini bisa berbahaya untuk kesehatan. Menurut laman Medical News Today, berikut beberapa bahaya sering menahan buang air kecil.
1. Infeksi Saluran Kemih
Dalam beberapa kasus, menahan kencing terlalu lama bisa menyebabkan bakteri berkembang biak. Hal ini bisa menyebabkan infeksi saluran kemih (ISK).
2. Kandung Kemih Meregang
Menahan kencing dalam jangka panjang secara teratur juga mungkin menyebabkan kandung kemih meregang. Kondisi ini juga bisa membuat kandung kemih sulit atau tidak bisa berkontraksi mengeluarkan air seni
3. Batu Ginjal
Selanjutnya, menahan kencing bisa menyebabkan terbentuknya batu ginjal pada orang yang memiliki penyakit ini, atau pada mereka yang mempunyai kandungan mineral tinggi dalam urin. Seringkali, kencing mengandung mineral seperti asam urat dan kalsium oksalat.
4. Kerusakan Otot Dasar Panggul
Sering menahan kencing juga bisa membahayakan otot dasar panggul. Salah satu otot tersebut adalah sfingter uretra yang mencegah urin bocor. Kerusakan ini bisa menyebabkan inkontinensia urin.